Skin Care

Travel Indonesia

Travel Asia

Recent Posts

Kulit Sehat dan Lembut dengan Redwin Sorbolene Moisturizer


Kulit sehat dan lembut dari Redwin Sorbolene. Di tengah euforia pergantian tahun, sebenarnya 2017 membawa dilema tersendiri buat saya. Gimana ngga, berarti saya lebih dekat melewati seperempat abad, bukan itu saja, saya lebih dekat dengan usia berkepala tiga! Orang bilang life begins at thirty, tapikan nyatanya makin banyak juga problematika yang akan dihadapi.

Masalah kulit, salah satunya. No, no, lagi ngga ngomongin jodoh kok kali ini, mah.

Sebagai perempuan, setomboi apapun, seignorant apapun, pasti minimal ada lima persen sangat khawatir banget dengan kondisi kulit. Apalagi ketika fakta membuktikan kita tidak bisa melarikan diri dari efek penuaan usia. OMG.

Dulu saya bisa dengan mudah percaya diri; seberat apapun masalah pada kulit saya; pastilah bakal balik sehat lagi. Karena memang sel kulit masih sehat - alias daya regenerasinya juga masih cepat. Namun, tidak bisa dipungkiri, walaupun kita sudah melakukan segala upaya demi menghambat, menghindari, dan memperlambat penuaan sel - toh akhirnya, secara alami, sel kulit akan mengalami penurunan daya.

Dan...

Welcome, Sensitive Skin


Awalnya saya berpikir kulit sensitif itu lebih dikarenakan faktor genetik, apalagi banyak dermatologis yang menyatakan bahwa benar, mereka yang berpigmen sedikit dan kulit dengan lapisan epidermis yang tipis lebih cenderung memiliki kulit sensitif (sumber). Berarti saya bisa berkesempatan donk punya kulit sehat dan lembut.

Namun, semakin kesini, ternyata kulit sensitif itu bebas mau hinggap ke siapa saja. Saya donk salah satunya, satu hari aja lupa merawat kulit, omg, maka kulit ngga ada beda sama kulit mujaer ajah #hadeuh. Karena, you know what, ternyata iklim, aktifitas kita sehari-hari, pola makan, istirahat, dan segala bahan yang mengenai kulit kita, semua sangat berpengaruh untuk kulit kita.

Lalu bagaimana dengan saya sendiri? Let's break down!

1. Lingkungan
Sehari-hari saya naik motor kemana-mana di tengah temperatur Bandung yang galau, kadang 28-30 derajat itu. Belum usai disana saya bekerja di ruangan ber-AC dengan suhu 17 derajat, tidak signifikan sih perubahannya, tapi bayangkan saja: saya melakukannya hampir setiap hari! Sehingga kulit saya rawan mengalami dehidrasi, belum lagi kalau saya mencuci tangan setelah dari toilet dan lupa untuk mengoleskan kembali pelembab, wah kulit saya mulai kayak kerak telor dehSo, welcome to sensitive skin issue level one!

2. Kotoran dan Polusi
Nah, faktor ini sangat erat kaitannya dengan adegan motor-motoran di poin nomor satu; kotoran berupa debu jalanan dan asap polusi ini adalah hal yang sangat tidak bisa dihindari. Kedua hal ini jika dialami terus menerus memang tidak mungkin akan merusakkan lapisan terluar kulit kita sehingga menyebabkan kulit mudah iritasi. Makanya, salah satu langkah saya adalah berkostum bagai astronot. Tapi.... Masa sih harus segitunya?

3. Gaya Hidup
Saya adalah tipe orang yang masih makan junkfood jam 3 subuh padahal bukan bulan puasa. Hahaha, not good, baby. Karena aslinya semua gaya hidup kita yang nyleneh sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh kita, entah hormon, belum lagi tingkat stress (tentulah kalo saya masih melek jam 3 subuh karena lagi ngelembur kerjaan), belum lagi pola diet saya yang masih aja terobsesi pengen selangsing Park Shin Hye. Ah, hidup ini memang kejam. Haha. Dan itu membuat kondisi kulit saya makin galau aja.

4. Air yang kotor? Pakaian? Perhiasan? Produk dengan kandungan kimia?
Singkatnya... Kulit sensitif itu bukan lagi masalah genetis.

Bad Skin, Bad Look!

Dan, saya baru aja donk pulang liburan Yogyakarta yang terkenal panasnya itu #pamerdetected, berjemur di pantai, jalan-jalan di candi. Kulit saya sukses sensitif akut, gosong, kering, dan makin pecah-pecah.

Saya sebenarnya ngga ada masalah dengan kulit gosong, tapi kalau sudah ada embel-embel: bermasalah. Nah itu yang bikin saya jadi patah hati #hix.
Jelek banget ya? Yang lebih parah adalah ketika beberapa waktu lalu kulit saya mengalami iritasi. Saya kurang tau apakah itu karena alergi makanan, digigit serangga, ataukah memang penyakit kulit. Gatel banget!! Kulit kaki dan tangan saya jadi bruntusan, merah-merah, kalau digaruk jadi berair (kadang berdarah) hingga meninggalkan bekas.

Parah banget pokoknya.

Salah satu bekasnya bisa dilihat di penampakan foto saya, dimana jadi ada bekas-bekas luka. Bukan hanya gatal, namun kalau terkena air ataupun produk kulit yang biasa saya gunakan jadi makin ekstrim gatalnya - dan bruntusnya nambah.

Saya sempat ke dokter, namun beliau bilang ini bukan kutu air namun permasalah kulit sensitif (bisa juga dari pola makan seperti alergi).

Kan saya jadi galau yaaa.

Terus solusinya apa?

Kembalikan Kulit Sehat dan Lembut dengan Redwin Sorbolene Moisturizer

Yes. Saat ini saya rutin menggunakan produk Redwin Sensitive Skin yang mengandung Sorbolene Moisturizer dengan kandungan 10% Glycerine dan Sorbitol dan Vitamin E. Ngomong-ngomong, produk ini ngehits banget lho sampai diklaim sebagai pelembab No.1 di Australia.

Kandungan: Water (aqua), glycerin, sorbitol, stearic acid, mineral oil, cetearyl alcohol, triticum vulgare (wheat) germ oil, tetrasodium EDTA, PPG-2 methyl ether, triethanolamine, imidazolidinyl urea, chloroacetamide, p-chloro-m-cresol, sodium benzoate, linalool.

See? Bebas pewarna, bebas pewangi, bahkan pengawet (paraben). 

Cara pemakaiannya adalah: dioleskan ke seluruh bagian tangan dan kaki setelah mandi di sore hari, ketika kita akan beristirahat. Dan ingat, jangan gunakan untuk kulit wajah.


Kandungan utama Redwin Sorbolene ini minyak, jadi teksturnya juga agak oily, walaupun cukup padat (terlihat pekat), namun lembut dan ringan sehingga mudah diaplikasikan pada kulit. Krimnya lembut sehingga nyaman banget ketika dioleskan pada kulit. Pokoknya seriously nothing but goodness for sensitive skin.

Oiya, yang terpenting lagi, produk Redwin Sorbolene Moisturizer dengan kandungan 10% Glycerine dan Sorbitol dan Vitamin E ini halal, lho!



Apa Saja Kandungan Redwin Sorbolene Moisturizer?

Kata gliserin mungkin sudah tidak asing bagi kita - terutama para lotion addict, karena memang salah satu bahan wajib dalam produk pelembab yang adalah si gliserin ini.

Bagaimana dengan sorbitol? Awalnya saya cukup kaget, karena yang saya tau penggunaan sorbitol ini lebih ke pengganti gula rendah kalori, bahkan disebut-sebut mengandung alkohol! NAMUN, nyatanya saya salah. Sorbitol ini bukan gula, bukan alkohol, melainkan poliol, kelas khusus karbohidrat yang ditemukan dalam tanaman. Dan saat ini bahan sorbitol termasuk dalam produk perawatan kulit premium karena memang kemampuannya untuk merevitalisasi kering, kusam , berkulit rusak karena sinar matahari (sumber).

Sedangkan vitamin E-nya yang diperoleh dari minyak biji gandum sudah terkenal dengan kandungan anti-oxidantnya yang siap melawan radikal bebas serta mencegah penuaan dini, juga menyembuhkan, menenangkan dan menutrisi kulit yang kering, kasar, pecah dan terkelupas.

Lalu apa itu Sorbolene, sang bintang utama?
Kandungan tertinggi sorbolene adalah minyak, sehingga tidak mudah terserap oleh kulit, means kita ngga perlu bolak-balik mengoleskan lotion #irit atau bahasa kerennya: sifat melembabkannya tahan lama pake banget. Banyak ahli kulit yang memang merekomendasikan penggunaan sorbolene ini dalam mengatasi kulit sangat kering, pecah-pecah. kulit yang telah rusak karena polutan, matahari, panas, dan bahan kimia.

Cara kerja sorbolene ini sendiri memang sebagai benteng pertahanan kulit yang menghalangi kulit dari alergen. Sehingga jelas menjaga kesegaran kulit. Dan yang paling penting, sorbolene ini aman untuk kulit bayi, lho


Healthy and Smooth Skin with Redwin Sorbolene



Lalu bagaimana hasil pemakaian Redwin Sorbolene Moisturizer pada kulit saya? Setelah menggunakannya secara rutin setiap hari, setiap malam, saya benar-benar merasakan bagaimana kulit saya menjadi lebih lembab dan elastis. Puji Tuhan, walaupun aktifitas sehari-hari padat, keliling sana-sini, tapi kulit tetap terlindungi; tidak mudah kering, kasar ataupun bersisik.

Yeay! bangga banget bisa dapetin kulit sehat dan lembut dari Redwin Sorbolene. Kelembutannya benar-benar terasa banget. Kulit jadi halus, terutama di daerah tumit yang sudah mulai pecah-pecah, siku lengan dan lutut yang kering.

Yang tadinya terasa bersisik dan bekas gatal-gatal, jadi kembali lembab. Bintik-bintik dan bruntusan juga mulai berkurang serta tidak gatal lagi.

Oiya, Redwin ini juga aman untuk kulit bayi lho, produk Redwin Sensitive Skin ini dipercaya bisa membantu mengatasi beberapa masalah seperti ruam kulit bayi, ruam popok, kulit bayi yang kemerahan. Hebatkan?

Puas banget bisa mendapatkan  kulit sehat dan lembut dari Redwin Sorbolene. Teman-temin yang punya kulit sensitif, wajib banget untuk cobain Redwin Sorbolene Moisturizer dengan kandungan 10% Glycerine dan Sorbitol dan Vitamin E.


Kesimpulan:
+ Melembabkan, menjaga elastisitas dan melindungi kulit.
+ Tanpa pewangi, paraben, dan pewarna
+ Halal
+ Dapat digunakan untuk berbagai jenis kulit, termasuk kulit bayi!

Saat ini Redwin sudah banyak dijual di drugstore ataupun supermarket. Tersedia dua ukuran:
Redwin Sorbolene Moisturiser Harga: Rp. 165.000 (500ml) dan Rp. 75.000 (100 gr).

Lalu juga ada produk sabun mandi Redwin Sorbolene Body Wash (500ml) Rp. 165.000


Tuh, ternyata mudahkan untuk mendapat kulit sehat dan lembut dari Redwin Sorbolene. So, tunggu apalagi, sekarang giliran kalian untuk merasakan kulit sehat dan lembut dari Redwin Sorbolene yang sesungguhnya!

See you!

Sudah 2017 Kok Masih Baper Ditanya Kapan Nikah?


"Jadi Noniq kapan nih?"
"Niq, kamu kapan beranak?"
"Non, jadi kapan nih kepastiannya?"
"Niq, keburu kiamat tau!"

Dasar kamu jahat! #baper.

Seriusan deh sepanjang Desember 2016 hingga awal Januari 2017, pundi-pundi saya sudah penuh diisi kalimat itu. Teman-temin yang mau bertanya juga silakan dan semuanya akan saya jawab dengan:

Senyuman.

Hehehe.

Ngga, saya ngga baper kok malah udah biasa. Ngga tiba-tiba manyun, sensi, sedih, galau, resah, menyesali nasib sambil termenung di pojokan. No pressure at all. Saya sendiri juga ngga tau kenapa saya bisa se...ignorant ini.

Mungkin karena saya sudah berserah pada Yang Di Atas dan sejak lama berprinsip "There is time for everything," Semua ada waktunya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Dan saya selalu yakini itu.

Dan memang saya bukan Sim Chung, yang berapa kali reinkarnasi uda tau kalo jodohnya si Joon Jae, jadi mau berganti masa juga, jodoh ngga akan lari kemana. Tapi kalau nasib kita kayak Hae Soo, dikelilingin pangeran cakep, yakali bingung mau nikah sama yang mana? Sagala hayang, bisi nyesel mun salah pilih. Tapi saya juga ngga kayak Hae Soo jugakk...

Faktanya, hidup ngga seluruhnya realisasi drama Korea, ngapain maksain diri cari pacar, berusaha mencocokkan diri dengan pria yang sebenarnya tidak kita sukai - hanya demi status: married.

Janganlah. Saya bukan artis sih, ngga mau kehidupan rumah tangga jadi aset buat naikin rating blog (hihihi).

Dan, sayangnya ngga semua orang bisa secuek saya. 

Saya sendiri orangnya jahat jahil, suka ngurusin orang lain gitu, suka tiba-tiba sok perhatian tapi salah tempat:

"Wah, udah lama ngga ketemu," Sambil cipika-cipiki, "Kapan nih merit?" saya langsung bertanya tanpa sadar bahwa pertanyaan itu merupakan kategori question-you-must-not-ask. Dan bukannya sadar bahwa diri sendiri belum aja nikah, kadang saya malah nambahin dengan ngga tau malu pada pasangan yang baru nikah, "Kapan nih dapat momongan?"

Iya, saya memang ngga punya kaca dan ngga tau diri. Hahaha.

Tapi, that's not a problemkan? Kenapa semua orang selalu menutupi, seakan "Belum punya pacar," itu hal yang memalukan? Saya salut pada teman saya, dia salah satu wanita korban patah hati ditinggal pria setelah 7 tahun lama masa pacaran. Move on? Iya, hingga kini usia 40 tahun, dengan percaya diri dia bilang,

"Saya belum menemukan yang pas dan untuk saat ini hidup melajang juga bukan halangan untuk bahagia."

Buat sebagian orang proses hubungan asmara hingga menikah itu bak perjalanan dari Husein Sastranegara menuju Denpasar airport naik pesawat; lancar jaya ngga pake macet, belum lagi seluruh fasilitas serba ada - alias pernikahan ngga repot. Tapi kan ada juga yang harus menjalani kisah cintanya bak perjalanan road trip Bandung - Bali naik motor. Tanjakan turunan lebih terasa, apalagi di daerah perbatasan kota - nyari makan dan penginapan aja susye minta ampun, belum kalau kehujanan. Tapikan, mereka yang naik pesawat belum tentu bisa menikmati pemandangan menyusuri Pulau Jawa, ya ngga? 

Semua ada jalannya. 

Saya selalu percaya kalau Yang Di Atas punya rencana indah atas hidup kita masing-masing. Kalau belum apa-apa kita sudah malu dan minder, berarti kita ngga percaya donk bahwa Yang Di Atas mampu memberikan kita yang terbaik?

Sahabat saya merupakan salah satu korban pelecehan seksual and it's super real. Saya menangis tidak percaya ketika mengetahui kenyataan itu, terlebih bahwa anak yang dikandungnya tidak akan punya "ayah". Rasanya kasihan, marah bercampur kesal, tapi apa daya saya tidak ada kuasa untuk melakukan apapun. Tapi Tuhan Maha Pengasih, saya percaya rencanaNya selalu yang terbaik. Sahabat saya akhirnya dipinang oleh seorang pria yang menyayangi dia dan mau menerima keadaannya. That's a drama turn into a real story.

Jadi, kenapa sih harus baper, kalau ditanya kapan nikah? Melajang bukan aib kok - seperti yang dikhawatirkan para jomblo sejagat. Wong faktanya beberapa orang yang saya kenal sudah menikah aja ujungnya curhat:

"Seandainya aku bisa balik melajang lagi kayak kamu, Niq," 

Jadi, daripada baper, mending pergunakanlah waktu kita untuk hal-hal yang baik. Siapa tau kita duluan dipanggil ketimbang ketemu jodoh #tibatibahorror.

Mari jalani tahun 2017 dengan lebih optimis, menyerahkan semua rencana terbaik kita pada Yang Di Atas agar semuanya dilancarkan.



***Dan postingan ini sebenarnya dijadwalkan di awal Januari dan berhubung kemarin masih hura-hura liburan baru bisa selesai sekarang. Amin. 

Postingan berikutnya ngereview lagi, yah. Muach!


Tips Penting Agar Sukses Berfoto Kece di UPSIDE DOWN WORLD YOGYAKARTA


Upside Down World Yogyakarta merupakan salah satu tempat wisata yang lagi ngehits rupanya. Ketika berkunjung ke sana saat liburan kemarin - waduh, padatnya pengunjung membuat saya harus rela bersabar demi bisa puas berfoto di bangunan yang mengambil tema "dunia terbalik" ini.

Jika teman-temin merupakan penggila foto, penggemar eksis di sosial media, rela berpose nyleneh demi keunikan dan citarasa foto yang berbeda dibandingkan masyarakat pada umumnya (hihihi) - berarti boleh coba kunjungi Upside Down World Yogyakarta (kalau lagi di Yogyakarta).

Saya sendiri awalnya tidak ada rencana mengunjungi tempat ini - malahan sebenarnya saya sedang dalam perjalanan menuju Pantai Parangtritis dari Candi Prambanan. Cuaca cerah dan terik matahari membuat saya percaya diri bahwa saya bakal bisa merekam sunset dengan apik di Parangtritis.

Apalagi, mencoba bertahan dari sengatan panas kota bakpia, saya sudah mempersiapkan tubuh agar bebas dari biang keringat. Deodoran dan bedak bayi sudah sah menjadi barang wajib yang harus saya gunakan setiap habis mandi (kebiasaan setiap kali melihat ibu saya memberikan obat biang keringat pada bayi kakak saya). Terbukti, saya bebas dari bau keringat walaupun momotoran dan panas-panasan sepanjang siang di area candi.


Namun, kenyataan berkata lain ketika cuaca Yogya mulai gelap, angin semriwing diikuti gerimis dan selanjutnya hujan deras!

Buru-buru saya browsing internet untuk melihat atraksi terdekat yang bisa saya kunjungi sekaligus jadi tempat berteduh. 

Muncullah kedip-kedip di GPS bahwa lokasi saya dekat dengan Upside Down World ini. Menyimak ulasan beberapa rekan blogger yang sempat berkunjung di acara pembukaannya, saya jadi tertarik juga untuk mengikuti keseruan mereka berfoto gila-gilaan.
Desain Spektakuler dibalik Bangunan Sederhana!

Tampak depan Upside Down World Yogyakarta (UDWY) menyerupai bangunan rumah pada umumnya. Area pintu masuk dan tiketnya malah terkesan sempit dan pas-pasan. Tiketnya yang seharga Rp. 90.000,- (dewasa) buat saya relatif mahal, tapi namanya penasaran ya gimana lagi (kesannya ngga rela banget, dah, hahaha).

Setelah membeli tiket, kita akan diajak memasuki area rumah bagian tengah sambil disarankan untuk melepas alas kaki dan disimpan di loker yang tersedia (kaos kaki masih boleh digunakan).

Selanjutnya kami menuju ruang utama, dimana dindingnya diatur seperti panel dan diberikan latar ruangan yang berbeda-beda; kamar tidur, kamar mandi, ruang duduk, dapur, ruang makan, garasi, juga ruang tamu. Satu ruangan menggunakan ukuran dinding sekitar 2-3 meter.

Nah, keunikannya terletak di pengaturan interior termasuk di dalamnya perabot. Yang mana, semuanya dibalik! Jadi meja, kursi, tempat tidur, dan hiasan dinding dipasang terbalik! Hal ini memang yang mau ditekankan; agar kita bisa menghasilkan foto cetar tanpa pusing mikirin pose.

Kuncinya memang dari perabotnya!
Mending Tripod atau Minta Difotoin?
Satu kekecewaan saya, berdasarkan beberapa tulisan di internet mengatakan bahwa staff UDWY siap membantu para pengunjungnya dalam mengarahkan gaya sesuai tema ruangannya juga siap memotretkan pengunjungnya.

Tapi, kalau dari pengalaman saya liburan kemarin (awal Januari 2017, lho, kemarin pisan!), para staff malah terlihat enggan membaur terlalu lama dengan pengunjung, malah hanya membantu sekedarnya saja. Entah karena sudah lelah karena kebanyakan tamu atau lagi mager (padahal saat itu masih jam 1 siang, lho).

Saya orangnya pemalu sih, jadi awalnya saya tidak meminta secara langsung kepada para staff untuk bantu motretin saya, melainkan saya kirim kode-sinyal gitu deh. Ya, kan namanya wanita selalu ingin dimengerti, gitu, uhuhu. Tapi kok ya mereka ngga paham...

Ditanya "Kalo di (dinding) sini, (posenya) mesti gimana, ya?"
Maka para staff hanya memberikan penjelasan "Kakinya ke sini, lagi begini, dan begini," Dan bayangkan, staff tersebut memberikan petunjuk pose tersebut ke seluruh pengunjung yang ada! Alias, kalau kita menanyakan "pose" ke staff, mereka hanya menunjukkan satu pose tersebut - kebayang donk, kalau kita para pengunjungnya ngga gila pose, pasti semua foto para pengunjung hasilnya sama semua.

Gemas karena para staff seakan tidak menyadari jeritan hati saya yang butuh pertolongan dipotretin, sayapun akhirnya meminta dengan sangat, "Mbak, bisa minta tolong fotoin?" Ke salah satu mbak yang lagi asyik mantau kegiatan para pengunjungnya. Actually it was obvious, she wasn't doing anything

Akhirnya dengan sedikit enggan, dia jawab "Boleh mbak," dan mulai mengatur pose saya, "Ok, lihat ke atas, lihat ke samping, lihat ke kamera," dan selesai tiga kali jepret, dengan cepat si mbak langsung mengembalikan kameranya ke saya, bukannya apa, tapi gelagatnya seakan memberikan pernyataan,
"Udah ah, lagi males motretin,"

Ih...

Kan kesel, ya.

Jadi, daripada kebawa baper kayak saya, mending kalau ke sana jangan berharap dulu bakal dipotretin sama staffnya (kecuali kalau memang lagi sepi, ya bisa jadi mereka bakal dengan senang hati motretin) tapi siapin aja fotografer pribadi atau lebih ekstrimnya: tripod!
Foto Kece Juga Perlu Makes Sense!
Jadi, hasil foto dari Upside Down World Yogyakarta ini diharapkan bakal menunjukkan seolah-olah kita bisa kayak cicak, bebas bergerak dan bisa nempel di sisi dinding manapun atau bahkan langit-langit tanpa takut jatuh.

Tapi, satu hal yang bikin fail adalah: fakta gravitasi.

Perhatikan foto saya yang gagal ini.
Inikan boong banget ya, karena rambut saya yang panjang tergerai itu tidak mengikuti gaya gravitasi. Jadi mau segila apapun pose saya, si rambut ini benar-benar ngerusakin foto. Hix.

#Tips 1: Perhatikan gravitasi!

Urusan gravitasi ini memang masalah kecil tapi kalau ingin hasilnya real, maka perlu dipertimbangkan lho. Misalnya disediakan kipas dari arah bawah untuk mengantisipasi urusan rambut dan arah pakaian. Sayang aja, pose udah maksimal tapi foto keliatan ngga masuk akal. Tapi kalau tidak, mau ngga mau kita harus bermain dengan pose.

Misalnya dalam foto saya, mau ngga mau, saya harus nempel terus ke dinding untuk menciptakan efek saya sedang menumpu/bersandar di langit-langit.

#Tips 2: Perhatikan sudut pandang dan maksud ruangan

Untuk urusan ini, kadang kita bisa bertanya dengan para staff. Namun, seperti yang saya katakan, para staff biasanya hanya menunjukkan pose yang itu-itu saja, sisanya kita kudu berkreasi sendiri. Kita perlu mengetahui maksud ruangan itu apa, dan bagaimana baiknya kita pose tapi tetap kelihatan beneran.

#Tips 3: Kreatif dan Responsif

Ada beberapa ruangan yang menurut saya agak ambigu. Bisa jadi karena saya kurang paham. 

Coba perhatikan ruangan ini. Perhatiin deh maksud tangga pada foto di bawah ini apa? Ngga jelaskan ya?

Tapi coba kalau kita crop sedikit. Hiiii... Saya jadi ngesot deh.

Jadi bukan hanya template blog yang perlu responsif, kita juga perlu sigap untuk menyesuaikan kondisi tersebut demi foto yang luar biasa... Lebay!

Saat berkunjung ke sana, Upside Down World Yogyakarta menyediakan sekitar 12 panel dinding yang siap dieksplorasi menjadi 200 buah foto, hahahaha....

Tertarik mencoba?

Upside Down World Yogyakarta
Jalan Ring Road Utara No.18, Maguwoharjo, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Kisah Bermalam di POP! Hotel Timoho Yogyakarta


Selamat tahun baru! Ini adalah tulisan pertama di tahun 2017 di mana saya baru pulang dari Yogyakarta dalam rangka liburan tahun baru, hehehe. Semoga 2017 menjadi tahun pembawa berkah bagi kita semua dan tentunya tahun ini saya mau lebih fokus dalam menulis review. Sebagai pembukanya, maka kita langsung saja ke ngebahas hotel tempat saya bermalam saat di Yogyakarta kemarin ya, hehehe.


Setiap kali saya berkunjung ke Yogyakarta bersama keluarga, kami selalu menginap di daerah Prawirotaman yang mana sebagian besar penginapannya sudah menjadi langganan dan pastinya kenal semua dengan orangtua saya. Namun, persiapan liburan tahun baru ke Yogyakarta yang mendadak membuat hampir semua kamar di Prawirotaman fully booked (kalaupun ada, harganya melonjak dan relatif mahal), sayapun harus rela mencari di daerah lain.

Saya tidak akrab dengan daerah Timoho, namun melihat harga dan beberapa foto resminya di salah satu situs pencarian hotel online, membuat saya tertarik untuk mencoba menginap di POP! Hotel Timoho yang ternyata memang baru resmi dibuka November 2016 lalu.


Dengan rate Rp 226.000,- (belum termasuk pajak dan pelayanan sekitar Rp 50ribu) per malam, saya tergoda dengan penampakan foto kamar yang terkesan bersih, rapi, minimalis. Apalagi fitur utamanya: kamar mandi shower dan air panas. Wah, jarang-jarangkan ada hotel dengan harga segini yang menawarkan air panas dan bukan shared bathroom!

Walau sempat agak lama untuk memutuskan, namun akhirnya saya memutuskan untuk memesan kamar di POP! Hotel untuk tiga malam. Awalnya saya berpikir untuk pesan untuk satu malam saja - siapa tau tidak cocok, namun mengingat jadwal liburan di Yogya yang sudah saya atur sedemikian agar alokasi waktunya maksimal, saya mengurungkan niat gonta-ganti hotel dan main pasrah aja, berharap pilihan saya tidak mengecewakan.
Gagal Early Check-in, PitStop-pun Jadi Tempat Tidur

Rencananya setiba di Yogyakarta pagi hari, saya mau langsung simpan barang di hotel, sewa motor dan jalan-jalan. Namun, apa daya ternyata badan pegal juga, karena memang hari sebelumnya saya masih sempat beraktifitas padat sehingga kurang istirahat.

Mengingat front desk yang katanya siap 24 jam, sejak di stasiun Yogyakarta saya sudah mencoba untuk menghubungi pihak hotel, siapa tau bisa early check in. Namun sampai akhirnya saya pesan taksi dan mengarah ke hotel, telpon saya tidak diangkat. Padahal setibanya di sana, saya melihat ada pegawai di receptionist desknya, huh.

POP! Hotel Timoho hanya berjarak 10 menit dari pintu keluar stasiun Yogyakarta Pasar Kembang (syarat: ga macet), saya berencana ingin langsung early check in, sayang hari itu 2 Januari 2016 kondisi hotel sedang full booked, alias tidak ada kamar kosong sebelum jam 2 siang (waktu check in).


Sayapun pasrah menunggu di lobi dengan barang bawaan. Berhubung badan lelah luar biasa, tidak lama saya malah tertidur di area lobi (kemudian disebut PitStop) POP! Hotel Timoho. Tapi memang, PitStopnya enak, nyaman dengan perabot yang modern. Ada kursi kayu. sofa, dan kursi rotan. Ada 3 unit komputer juga yang siap digunakan. WIFI? Bisa diakses gratis baik di lobi ataupun di kamar.


Motor yang saya sudah pesan ternyata baru datang jam 8 pagi, padahal janjinya jam 7 pagi. Berniat untuk berpetualang, saya kembali mencoba untuk early check-in, karena saya memperhatikan ada tamu yang baru check out.

Lagi-lagi tidak bisa. Dengan alasan housekeeper baru datang jam 9 pagi, sehingga paling cepat saya baru bisa early check-in jam 10 pagi, itupun saya harus membayar biaya 50% harga per malam (yang hari itu ratenya sudah di harga Rp 298ribu).

What?! Saya jadi mikir dua kali mau early check in, karena memang tujuan utamanya mau simpan barang dan sukur-sukur bisa sebentar leyeh-leyeh. Namun, begitu mendengar harus bayar 50% hanya untuk 4 jam? Wah, mending saya mlipir aja deh lihat gajah di Gembira Loka Zoo, ckckck. Untungnya, pihak receptionist berbaik hati, saya boleh titip barang saya sampai nanti waktu check in.

Sebelum pergi, saya diberi nomor urut oleh pihak receptionist, katanya untuk memudahkan pengelolaan pengaturan kamar saat jam check in. Saya sempat bingung, ini maksudnya apa. Usut punya usut, ternyata ketika jam 2 teng, semua tamu yang mau check in membludak, donk! Alias ngantri panjang di depan meja receptionist.

Semuanya ngaku sudah pesan hotel, semuanya minta kamar, semuanya pengen diduluin!

Jadi itu toh gunanya saya diberi nomor urut. Bersyukur saya diberi nomor urut SATU! Jadi tanpa ngantri, saya nodong minta kamar langsung dikasi.

Ya iyalah, saya sudah dari jam 5 pagi di POP! Hotel Timoho, gitu!
Mencicip Bratwurst Hot Dog Hingga Beng-beng Empat Ribuan!

POP! Hotel Timoho ini tidak menyediakan sarapan, hal yang sangat disayangkan sebenarnya. Apalagi kalau mengingat, setiap saya nginep di Prawirotaman, dengan harga kamar yang lebih murah saya selalu dapat roti bakar atau nasi goreng dan teh panas manis setiap pagi. Bisa jadi itu salah satu strategi pihak hotel sendiri, karena mereka merasa "jual kenyamanan" dibanding menjual kenikmatan makanan.

Karena penasaran dengan makanan yang ditawarkan, maka saya mencoba memesan Pop Hot Dog dengan sosis bratwurst untuk sarapan saya di hari pertama. Dengan harga Rp 27ribu (termasuk pajak), buat saya sih tidak ada yang spesial dengan hidangannya.

*Maaf ya kalau tidak ada fotonya, karena pagi itu saya lagi kerepotan dengan urusan check-in dan sewa motor.

Rotinya plain, roti hotdog aja, ngga diapa-apain (dipanasin atau diolesin mentega gitu). Sosispun seperti hanya dipanaskan sekedarnya saja sambil diberi mayonaise namun tetp rasanya seperti tidak matang, sosisnya dingin bak keluar dari kulkas. Pelengkapnya hanya ada keripik kentang yang rasa MSGnya menusuk tenggorokan sekali. Setiap order harus langsung bayar alias tidak masuk ke bill hotel.

Harga makanan naik 100% di hotel? Saya bisa terima, di POP! Hotel Timoho, Pop mie dijual seharga Rp 7.273, Minute maid seharga Rp 9.091. Tapi yang bikin saya geleng kepala adalah, sebuah beng-beng harganya Rp 4.500!

Mahal banget, yak! Saya beli dua beng-beng harganya lebih mahal ketimbang popmie, hihihi.

OMG! Jadi penasaran, kalau makanan di Pulau Jawa aja harganya jadi segini, gimana kalau harga makanan di POP! Bali ya? Apalagi Pulau Dewata yang satu itu kan tarifnya sudah pakai standar dollar, hm, mungkin suatu saat ada yang mau ajak saya mencoba menginap di POP! Hotel Bali, hehehe (if you wonder where is Bali located).

So, yah... Kalau teman-temin lebih mengutamakan kenyamanan kamar, ya jangan ngarep sama makanannya deh.
Penampakan Kamar POP! Hotel Timoho
Penasaran seperti apa sih kamar yang saya dapatkan? Kamarnya seukuran 3x4meter, didesain sedemikian rupa hingga muat tempat tidur (bisa dipilih king size atau twin sharing) serta satu sofa. Wastafel dan kamar mandi. Tidak ada lemari secara khusus, hanya rak, kotak safe deposit, dan gantungan yang terletak di belakang pintu. Minimalis namun trendi. TV layar datar dengan saluran kabel menempel di dinding depan tempat tidur. AC dan WIFI juga on terus di kamar.

A video posted by noniq (@noniq108) on


Teman saya bilang kamarnya sempit, namun kata saya sih penggunaan ruangnya efektif, toh yang penting kasurnya empuk, selimut juga enak serta kamar mandi yang bersih. Sayang, hanya ada kaca doank. Lubang pertukaran udaranya mungkin ada, tapi saya tidak perhatikan di bagian mananya. Yang jelas, kalau ACnya dimatiin, kamar bakal jadi gerah. Hal itu menyebabkan ketika pertama kali saya masuk kamar, agak bau lembab dan pengap, karena memang tidak ada ventilasi jendelanya.

Complimentary service hanya berupa dua botol air mineral setiap hari. Tidak ada pemanas air ataupun boro-boro disediakan teh atau kopi sachet, tapi minimal kamar kita dibersihkan setiap hari. Terlihat dari perubahan bed cover kalau saya kembali ke hotel setiap malam. Handuk mandi juga diganti setiap hari.  Tersedia fasilitas laundry tapi saya tidak sempat coba.

Oiya, dilarang merokok di kamar POP! Hotel ya (juga termasuk seluruh area di dalam hotel), kalau ketahuan merokok dendanya Rp 500.000,- plis deh, mending juga buat nambah 3 malam, hehehe...
Dari Ariana Grande hingga Titanium Setiap Malam!
Saya kurang tau dan tidak bermaksud sok tau juga tentang definisi POP! Hotel ini, yang pasti, hingga di koridor kamar selalu terdengar musik yang diputar di PitStop lantai dasar hingga sekitar pukul 10 malam! Bisa jadi karena memang di area koridor kamar dipasangi speaker, tapi untuk apa sih?

Alhasil, yang tadinya saya ingin tidur nyenyak jam 7 malam, saya agak terganggu dengan musik jedag-jedug yang sayup-sayup terdengar hingga kamar hotel. Sebenarnya, saya tidak ada masalah dengan ada atau tidaknya musik yang diputar, namun pemilihan musiknya kok ya ngga sesuai banget timingnya.

Okelah, kalau siang-siang diputar lagunya Ariana Grande, namun selama dua malam pertama saya notice ada lagu Titanium-nya David Guetta diputar sekitar jam 7-8 malam.

Amburegul Emeseyu Bahrelway Bahrelway.....

Ampun deh, yakali gimana bisa tidur? Toh kalau mengacu pada kata POP, banyak juga lagu Pop yang temponya lebih lambat dan bisa dijadiin teman istirahat. Ini hotel lho! Bukan cafe, please deh.

OVERALL

Secara keseluruhan sih, nginep di POP! Hotel Timoho Yogyakarta buat saya berkesan banget. Untuk saya yang sangat mengutamakan kenyamanan kamar dan kebersihan kamar mandi, dua-duanya ada di POP! Hotel Timoho Yogyakarta.

Dan, not to mention, desain bangunan baik interior dan eksteriornya sangat catchy banget, it's intagrammable. Dan lucunya, baru setelah saya pulang dari hotel ini, saya baru ngeh kalau ada kontes foto dan video instagram yang diadakan Pop Hotel! Tau gitu.... 

Staff hotelnya secara keseluruhan sangat ramah dan baik, walaupun ada aja sih pelayanan yang selow banget, tapi akhir eksekusinya semua berakhir baik dan memuaskan.

Tambahannya lagi, saya bahagia masih boleh menitipkan barang di hotel setelah check out, karena memang jam kereta api saya jam 8 malam, saya masih ingin jalan-jalan dulu di seputaran Malioboro dan beli oleh-oleh.

Lokasi POP! Hotel Timoho Yogyakarta terletak di depan Balai Kota Yogyakarta. Cukup dekat dengan Gembira Loka Zoo, XT Square (De Mata Trick Eye Museum), dan sekitar 15 menit menuju Candi Prambanan.

Jadi begitulah kesan-kesan saya yang tertumpah dalam review POP! Hotel Timoho Yogyakarta. Bisa jadi di kunjungan saya berikutnya ke Yogyakarta, saya mau ke hotel ini lagi.


POP! Hotel Timoho Yogyakarta
Jalan IPDA Tut Harsono no. 11 Yogyakarta

★★★★☆ (4/5)
PRO
CONS
👍Kamar tidur dan kamar mandi bersih (bisa untuk 3 orang dewasa)
👍AC, TV layar datar (saluran kabel), dan Free Wifi
👍Layanan laundry
👍Room cleaning setiap hari
👍PitStop (Area lobi) nyaman
👍Desain bangunan yang trendi
👍Free Parking (Mobil dan motor)
👍Harga relatif reasonable
👍Suasana di area hotel nyaman

👎Check in jam 2 siang, agak kesiangan!
👎Early check in dengan biaya 50% bahkan 4 jam sebelum check in, mahal banget!
👎Tidak tersedia sarapan
👎Agak jauh dari pusat kota Yogyakarta (Malioboro, Keraton, Tugu, dsb).
👎Lagu di koridor kamar hingga jam 10 malam, ngga banget!
Revisit? Yes, but not on my top priority.

Begitulah review saya, oiya, POP! Hotel Timoho Yogyakarta ini adalah hotel POP! kedua yang pernah saya singgahi, yang pertama berlokasi di Jakarta. Bagaimana menurut teman-temin, ada yang tertarik untuk mencoba menginap di sini juga? Atau ada yang mau bercerita mengunjugi hotel cabang POP! yang lain?

Sampai bertemu di postingan berikutnya!

Sudah siap? Sherlock Season 4 Hadir di Awal Tahun 2017!


Ciyeh, setelah sukses menjadi penyihir Marvel, akhirnya Benedict Cumberbatch kembali ke profesi awalnya sebagai detektif di serial detektif BBC, Sherlock. Ada yang kangen dan penasaran gilak seperti saya?

Sebagai penyuka film yang berbau detektif, thriller, dan suspense, serial Sherlock ini memang sukses memikat saya sejak musim pertamanya. Malah, gara-gara Sherlock ini saya jadi ngefans berat sama Mr. Cumberbatch - padahal menonton film sebelumnya Fifth Estate, The Immitation Game, Star Trek, saya mah biasa aja da

Baru usai menyaksikan Sherlock musim ketiga dan edisi spesial "The Abominable Bride" saya jadi greget penasaran dan berubah jadi fangirl! Yang berlanjut ngga bisa berkedip sepanjang nonton Doctor Strange. Hahaha.

Sherlock merupakan tokoh detektif karya Sir Conan Arthur Doyle - kalau teman-temin penggemar manga Detektif Conan pasti tidak asing dengan nama ini. Sebelumnya di tahun 2000an film Sherlock pernah diangkat ke layar lebar diperankan oleh Robert Downey Jr. (Iron Man), lalu diikuti juga dengan film seri Elementary yang juga terinspirasi dari novel Sherlock ini.

Saya memang aslinya belum tuntas membaca novel Sherlock, namun secara umum tokoh Sherlock ini digambarkan sebagai pria yang jenius, arogan, mampu memberikan deduksi terhadap sebuah peristiwa dengan cepat karena daya analisis yang tajam. Kelemahannya adalah Sherlock ini kadang nyebelin, sarkastik, karena memang dia merasa selalu berpikiran selangkah lebih maju dibandingkan orang pada umumnya. Dan, ups Sherlock pengguna morphin

Memiliki sahabat John Watson, musuh bebuyutan Moriarty dan jatuh cinta pada wanita cerdik Irene Adler, membuat cerita Sherlockpun tidak lepas dari intrik.

Yang Menarik dari Serial Sherlock BBC?

Jadi serial Sherlock yang diperankan Benedict Cumberbatch ini menceritakan tokoh detektif Sherlock namun di masa sekarang, jadi lebih modern tidak seperti novelnya yang digambarkan 1854-awal 1900. Karena settingnya modern, buat saya jadi lebih seru. Namun kisahnya tetap diangkat dari cerita novelnya - tidak dipelintir jauh seperti yang dilakukan tokoh Sherlock dalam serial Elementary.

Lebih seru dari serial CSI yang sepanjang 15 musimnya, buat saya, hampir seluruh episodenya memiliki alur cerita yang relatif sama.

Uniknya, setiap musim, Sherlock BBC hanya mengeluarkan tiga episode! Jadi hingga saat ini tiga musim dan satu edisi spesial, baru ada 10 episode Sherlock sejak tahun 2010! Hahaha. Silakan buat teman-temin yang baru mau mulai nonton bisa dikejar hari ini.

Tidak perlu khawatir bakalan susah mencari cara untuk nonton, DVD originalnya sudah tersedia di toko, selain itu jika mau menonton langsung dari internet, sekarang makin mudah streaming serial barat,  salah satunya kita bisa menggunakan aplikasi streaming film online berbayar seperti iflix yang pastinya memudahkan kita dalam menonton film dan TV serial favorit dengan kualitas tinggi.

Penasaran mau mencoba nonton Sherlock atau memang sudah penasaran bagaimana penampilan mereka di Musim Keempat?

Ditunggu komennya, hehehe.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya!