Penting! Sebelum Memutuskan Berpacaran

by - Thursday, March 13, 2014

"Menyatukan dua pribadi adalah hal yg sangat mustahil"

Itulah kalimat pembuka pada seminar tentang "Pacaran" yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Seminar terbatas yang diadakan oleh gereja saya ini sebenarnya dikhususkan untuk para remaja dan pemuda tapi toh ya kok saya diundang juga, entah karena saya dianggap berpengalaman atau dikira saya masih muda. Berhubung alasan yang pertama rasanya ngga mungkin, saya meyakini alasan nomor dua aja: yes, I'm young #pret.

Topiknya dibawakan oleh pendeta saya sendiri, tidak manggil pembicara mana-mana untuk lebih mengakrabkan kami, para jemaat satu sama lain -karena memang seminar ini semi-formal dan ada diskusinya. Prinsipnya sih, seminar ini memang lebih mengarahkan kita para anak muda untuk menerapkan gaya pacaran yang sesuai dengan ajaran agama Kristen, tapi setelah saya menyimak dengan baik dan mengambil intinya, ternyata gaya pacaran yang diajarkan sangat baik dan sehat serta secara umum bisa diaplikasikan pada siapa saja terlepas apapun agamanya (dan memang bersedia menganut gaya pacaran no-free sex before marriage, dll). Melihat banyaknya tindakan kriminal oleh pasangan-pasangan muda yang berpacaran saya jadi tergerak untuk membagikannya.

Ok, jadi langsung saja ya, saya copy-paste apa yang saya dapatkan, semoga bisa berguna bagi para anak muda dan orang tua.

*****

Apakah pacaran itu?
Hubungan pribadi yang bersifat khusus antara dua manusia berlawanan jenis yang saling jatuh cinta dan bukan hasrat seksual. Jika yang jadi fokusnya hasrat seksual, bisa jadi nanti salah satu jadi penikmat dan satunya jadi korban. Pacaran itu menyangkut hubungan timbal balik dua pribadi jangan sampai ada pemikiran "Saya mencintai karena dia mau memenuhi keinginan saya," sedangkan si pihak lain dibutakan oleh cinta dan rela 'dieksploitasi'. Sangat kurang dan tidak baik. Oya, hindari juga pacaran yang didasari kasihan, itu salah besar!

Apa yang mendasari kedua pribadi bisa saling jatuh cinta?


a) Fisik. Cantik, langsing, macho - hal yang tipikal tapi begitulah faktanya.
b) Kekayaan. Sinetron banget? Tapi hal ini seringkali terjadi, dan dari situlah cinta datang bagi beberapa orang.
c) Perlakuan spesial. Seseorang suka memberi hadiah, dan yang lainnya dengan senang hati menerima.
d) Memiliki hobi yg sama/minat
e) Idealisme yg sama
f) Profesi yg sama
g) Kekaguman akan intelektual (pandai) dan kepribadian (humoris)
h) Treno jalaran saking kulino alias sering bersama
i) Dijodohkan
j) Mirip mantan atau tokoh idola - ada teman saya yang nafsu pingin punya pacar yang kayak Lee Min Ho!
k) Komunikasi nyambung
l) Pikiran dan perasaannya nyambung dan bisa saling mengerti/sejalan
m) ......... Isi sendiri, karena masih banyak.

Apakah Tujuan Pacaran?
Suatu hubungan pacaran harus punya tujuan yg jelas, kalau tidak hubunan tersebut sia-sia, buang waktu dan energi serta umur. Dan inilah tujuan yang seharusnya menjadi dasar siapapun yang sekarang sedang berpacaran:
1) Kesatuan hati
2) Setelah kesatuan hati didapat, maka keduanya akan mencapai kesatuan pribadi melalui pernikahan

Bagaimana mencapai kesatuan hati?
a) Pertolongan Tuhan melalui berdoa.
Kita menyadari bahwa baik kita dan pasangan kita berasal dari latar belakang yang berbeda. Kita tidak bisa menggunakan emosi untuk memaksa pasangan kita mengerti ataupun menjadi seperti apa yang kita mau. Sebaliknya kitapun memerlukan hati yang lapang untuk mau menerima segala perbedaan dan rendah hati untuk menyatukan perbedaan. Ya, berdoalah satu-satunya jalan, karena hanya DIA yang mampu menjamah hati seseorang.
b) Perlu kebersamaan yg bermutu alias jam terbang.
Manusia adalah makhluk yang misterius, apa yang kita lihat belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Semakin sering kit bersama dengan pasangan kita (melakukan hal positif, ya!) semakin sering kita mengenalnya dan dijamin lama-lama mereka pasti bosan sok jaim terus-terusan.
c) Mengenal secara pribadi dan sebenarnya; kita bisa bertanya kepada pasangan kita mengenai apa peristiwa yang paling menakutkan, bahagia, membanggakan bagi mereka. Jangan suka menebak-nebak, karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan.
d) Mengenal keluarga dan situasi yang selalu dihadapinya.
e) Bersama-sama mengatasi masalah-masalah hidup yang riil
f) Komunikasi yang baik di tahap pacaran
g) Saling membangun dengan cara penuh kasih
h) ......... Isi sendiri, karena masih banyak.

Cara Berpacaran Yang Tepat
a) Harus dipilih cara yang sesuai dengan tujuan pacaran
b) Sesuai dengan ajaran agama (Firman Tuhan), masing-masing pasangan harus mengerti agama karena kalau tidak kita sendiri yang rugi.
c) Dipilih cara yang disetujui bersama; terutama untuk waktu dan uang.
Hal ini penting karena dalam sebuah hubungan ada harga yang harus dibayar: waktu, uang makan, uang jalan-jalan, tenaga dan juga perasaan, hihihi. Faktanya, pacaran memang memakan tenaga dan pikiran, kan? Ingat, ya, pacaran yang salah akan sangat merugikan karena hasrat, minat dan pikiran antara wanita dan pria bisa berbeda. Dan lagi, cara berpacaran akan menjadi sejarah bagi kita: apakah menjadi kenangan indah ataukah penyesalan di akhir.

Pacaran yang sesuai dengan Ajaran Agama (Firman Tuhan)
a) II Korintus 6:14 - Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?
Artinya, carilah pasangan yang sepadan, satu kualitas iman dan seimbang. Mungkin bagi masyarakat umum, pernyataan ini agak kontroversial, karena sekarang orang sudah tidak peduli agama apa atau kepercayaan apa, asal cocok, pernikahan bisa dilakukan dimana saja. Tapi saya sih setuju dengan poin ini: kesamaan iman sangat penting. Bagaimana sebuah keluarga, sebuah bahtera rumah tangga bisa dibangun di atas dua pondasi yang berbeda? Bukankah keimananan kita adalah pondasi hidup? Dan saya tidak mau berdebat masalah ini karena buktinya sudah saya rasakan sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

b) II Petrus 3:18 - Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.
Arti luasnya adalah, kedua pribadi sebaiknya bersama-sama menjalankan proses pertumbuhan kedewasaan rohani untuk mampu membangun dasar rumah tangga yang kuat, serta hidup sehari-hari sesuai dengan Firman Tuhan.

c) Ibrani 10: 24 - Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. 10:25 - Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Contohnya saya selalu mengingatkan pasangan untuk setia beribadah :) It's fun, lho bisa sama-sama tumbuh keimanannya dengan orang yang kita cintai dan sama-sama beraktifitas dalam kegiatan rohani.

d) Mat 7:24 - Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. 7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Pacaran itu bagaikan orang membangun rumah, apakah 'rumah' seseorang itu kuat ketika 'badai' datang akan diuji ketika proses pernikahan dilakukan.

e) Kolose 3:17 - Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Segala perbuatan/perkataan yang dilakukan pasangan haruslah sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan (sesuai agama/kepercayaan) jangan sampai satu pihak menjadi penikmat dan yang lainnya menjadi korban.

f) Galatia 6:2 - Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. 

Namanya pasangan ya sudah sewajarnya saling tolong-menolong dan menguatkan antar pribadi, tapi harap diingat ya, kembali ke poin sebelumnya: apakah bisa dipertanggungjawabkan????

Pacaran yang tidak biasa dan rentan terhadap masalah
Ok, di bawah ini bukan menyebutkan pacaran yang dilarang ataupun tidak diperbolehkan, ya. Hanya tidak biasa dan seringnya mengundang masalah. Semuanya kembali lagi kepada kepribadian masing-masing yang menjalankannya. Alasan kenapa bisa mengundang masalah bisa dilihat lagi ke poin-poin di atas.

a) Berbeda usia terlalu jauh.
Hal ini mengacu pada tingkat kedewasaannya dan tidak berada di masa tua yang sama. Curcol, ah, saya pernah menjalaninya dan memang ada situasi dimana faktor umur begitu mempengaruhi emosional kita ketika menghadapi masalah dan.. tetot, it didn't work out for me! Tapi, positifnya, orangtua saya terpaut 7 tahun dan mereka sukses bersama hingga detik ini. Rahasianya? Baca lagi poin-poin di atas, hehehe.

b) Berbagai perbedaan: beda suku, agama, pendidikan, budaya. Ada pula perbedaan kebiasaan dan sikap hidup akibat pengaruh dari keluarga. Terutama kesenjangan budaya bisa menjadi hal yang riskan penyebab masalah

c) Pacaran jarak jauh. Khusus yang ini, syarat utamanya harus ada kualitas hubungan yang baik dan kuat sebelum menjalin pacaran jarak jauh, karena hubungan ini perlu berlandaskan saling percaya. Tapi, tetap, jangan lama-lama LDR-nya, setan ada dimana-mana, hehehe.

d) Pacaran backstreet (tidak direstui).
Terkadang anak muda merasa tertantang dengan hubungan jalan belakang, alasannya seru, banyak tantangan, terasa lebih manis -karena penuh perjuangan. Padahal kenyataannya: fatamorgana. Berani pacaran yang kudu gentleman.

e) Pacaran terlalu lama.
Bedakan ya, pacaran karena menunggu umur mencapai tingkat layak untuk menikah (semisal pacaran dari SMA/kuliah) dengan pacaran lama karena tidak berani mengambil keputusan: mundur ga mau, maju ga mau. Situasi ini merupakan pacaran yang tidak jelas tujuannya dan otomatis hubungan ini kehilangan kualitasnya.

f) Pacaran yg terhalang oleh hukuman/tugas negara: agak tidak umum sih, tapi bisa berbahaya jika tidak ada kualitas hubungan yang kuat.

*****

Nah, sampai di situ kira-kira apa sudah bisa menangkap inti/esensi dari pacaran? Kapan usia yang baik untuk pacaran? Bisa kembali lagi ke atas, apakah seseorang sudah bisa mengerti apa tujuan/guna pacaran atau belum? Pacaran sekedar main-main, gonta-ganti pasangan, untuk sekedar status? Benar atau salah? Pacaran, tidak ada hukumnya, tapi ada hukum sosial. 

Silakan dinilai sendiri. Selamat pacaran! #plak.

You May Also Like

2 comments

  1. aku blm pernah pacaran dan belum punya pacar mak... hihi

    ReplyDelete
  2. Hahaha... terakhirnya itu lho selamat pacaran xD

    ReplyDelete