Review: Nien's Corner, Latief Inn Bandung

by - Wednesday, October 29, 2014

 

Bertempat di Jalan Natuna, tempat makan yang dinamakan Nien’s Corner ini berada di salah satu sudut Latief Inn, sebuah penginapan yang sudah berjalan selama 1,5 tahun. Mengambil posisi di sebuah tikungan, tempat makan ini (terutama hotelnya) menurut saya mudah sekali ditemukan –karena saya memang kerap melewati jalan ini. Jalan Natuna sendiri merupakan kawasan hunian yang menghubungkan dua ruas jalan utama di Bandung, Jalan Sunda dan Jalan Sumatra. Kedua jalan tersebut dipastikan sering sekali ramai! Sebaliknya dengan Jalan Natuna, situasinya nyaman, asri dan tenang. Dengan banyaknya pohon-pohon besar nan rindang di sisi jalan, ritme lalu-lalang kendaraan yang masih bisa dihitung jari, juga masih minimnya bangunan komersial ataupun warung-warung liar, daerah Natuna ini memang paling pas bagi mereka yang ingin nongkrong santai di akhir pekan, dan sudah pasti Nien’s Corner mampu menjadi tujuan utama bagi mereka para fakir ketenangan.

LOKASI


Hal ini membuktikan bahwa berbisnis di Bandung tidak ada matinya, selalu ada yang baru di Bandung dan selalu ada mereka yang gemar mencari di akhir pekan. Sebagai kota wisata yang makin hari makin digandrungi pengunjung dengan plat kendaraan mayoritas B (juga F, Z, AB, N, L, banyaklah…), kata macet tidak bisa dipungkiri hampir selalu menjadi tema di akhir pekan. Sebagai warga Bandung yang peduli pendatang biasanya saya jarang plesir kemana-mana saat weekend, apalagi long weekend, biarlah yang lain saja menikmati Bandung –pikir saya, tapi ada yang berbeda dengan long weekend beberapa waktu lalu.

Sehingga, tidak salah ketika saya menerima undangan mas Hengky untuk datang ke acara makan siang bersama Blogger Bandung lainnya di Nien's Corner, saya cepat-cepat bilang “Mau". Emang dasarnya saya doyan makan, jadi siapapun ngajak makan juga sebenernya pasti saya terima (#catet), pertimbangan lainnya, lokasinya juga cukup dekat dengan tempat saya.


Memasuki area tempat makan yang baru dibuka 10 Oktober 2014 lalu, saya segera memilih salah satu sofa hitam persegi yang tersisa di salah satu sudut ruangan, kebanyakan yang lainnya sudah diisi oleh para blogger Bandung yang sudah lebih dulu tiba. Sofanya empuk, dan nyaman namun menurut saya terlalu memakan tempat. Sembari memperhatikan daftar menu dengan seksama, mata saya memperhatikan apa yang ada di atas meja kayu di hadapan saya; asbak, tempat tissue (dan tusuk gigi), lilin, dan satu lagi saya ngga tau itu apa, hahaha… #ndeso.

Ruangan berukuran kira-kira 10 x 6 meter ini memiliki 5 meja kayu dengan variasi tempat duduk bergaya sofa yang segera terisi penuh oleh kami para blogger yang kala itu hadir. Saat itu kami berjumlah lebih dari 10 orang dan seketika ruangan terasa padat, belum adanya AC menjadikan udara di dalam terasa begitu pengap dan panas. Tapi, bersyukur alunan musik bertempo sedang dari speaker di belakang saya cukup membuat saya tetap bertahan untuk mencicipi menu kekhasan tempat makan ini.

Note: Mas Hengky bilang, ke depannya akan ada AC portable, sip deh kalo gitu.

MENU

Saya memilih menu utama Tenderloin My Style, sebenarnya agak tidak cocok ya makan steak di siang hari, tapi berhubung nama tersebut berada di deretan paling atas dengan embel-embel my style pastilah menunggu untuk dipesan kan?  Lalu Tiramisu Shake saya pesan karena teh Rizka, sesama blogger sudah duluan pesan dan katanya salah satu menu favorit (yang mana, fotonya di daftar menu agak tidak sesuai dengan kenyataannya, in a good way sih). Yang terakhir, Caramel Frappe Afogato, karena saya memang penyuka kopi, dan ingin tau penyajiannya di sini.

Sudah siap menuju pembahasan? Ok.

Tiramisu Shake | IDR 18.5k 


Tiba setelah kira-kira 15 menit, awalnya saya kira ini semacam kue, desert, makanan penutup. Taunya berjenis minuman, ya Milkshake rasa Tiramisu, rasanya cukup enak, hampir menyerupai versi cake Tiramisu ala Bread Talk. Porsinya cukup –ditempatkan di sebuah gelas tinggi dihiasi astor dan buah ceri.

Tenderloin My Style | IDR 55.5k


Harganya agak mahal jika dibandingkan menu serupa di Suis Butcher. Yang menarik, sausnya dipisah di sebuah cawan kecil. Penyajiannya rapi dan cukup menggoda, hanya saja saya menyadari daging ini dimasak secara medium – jadi masih setengah matang, padahal saya lebih suka well done, alias matang. Hm, ok deh mari kita coba.

Ketidaknyamanan mulai terasa ketika proporsi meja-kursi yang saya tempati benar-benar dirasa tidak mendukung untuk makan, saya jadi harus sedikit membungkuk ketika harus bergulat dengan daging. Saya sempat berpikiran untuk pindah di meja yang berada di luar ruangan yang ukurannya lebih “ramah” untuk makan, tapi ya sudahlah. Selanjutnya saya sempat kecewa dengan pisau roti yang diberikan untuk menu steak, susah sekali mengirisnya! Tapi, tenang, saya sudah menyampaikannya kepada pihak yang bersangkutan dan besar kemungkinan bahwa mungkin hal ini akan mendapat perhatian agar pengunjung berikutnya tidak merasakan kegalauan saya.

Porsi daging cukup besar buat saya, relatif empuk dan mudah dipotong walaupun harus susah payah dengan pisau roti (#tetep dibahas). Sausnya didominasi rasa manis bak barbeque, kadang saya berpikir kebanyakan steak di Bandung ini didominasi rasa yang cenderung manis, ya? Rasa rempah-rempah oreganonya tidak terasa, tapi ya… kembali lagi ke embel-embel My Style, nothing’s wrong with that, hanya saja menurut saya jadi kurang rasa Eropanya. Kentangnya enak, renyah dan porsinya wajar. Oya, ketika lidah saya seperti dipenuhi saus tenderloin yang begitu kuat, ketika minum Tiramisu shake, segala rasa manisnya seperti dinetralisir lagi. Mantap deh!

Note: harusnya disediakan juga saus tomat, saus sambal, dan black pepper/merica sebagai pelengkap. Saya kan suka makan kentang dengan saus tomat –namun kemarin saya juga tidak keburu untuk minta, hehehe…

Caramel Frappe Afogato | IDR 18.5k


Saya pernah merasakan afogato di Trans Studio Hotel, disuguhi hanya dengan cangkir kecil namun rasanya nyelekit. Berbeda dengan Afogato yang saya rasakan di Nien’s Corner, lagi-lagi didominasi dengan rasa manis dari caramel, rasa kopinya jadi hampir tidak kentara. Bagus untuk mereka yang ingin sok-sok minum afogato tapi dengan kadar yang lebih rendah karena ada caramel frappenya yang menyelamatkan, hehehe. Porsinya juga banyak, bikin puas siapapun yang minum!

OVERALL

Cukup suka dengan suguhan di Nien’s Corner, citarasanya cukup “aman” menurut saya, everybody will love it, tapi kurang nendang, I mean, ya seperti steaknya, kurang rasa oregano/basilnya, Afogatonya kurang dikit lagi rasa kopinya. But tiramisunya itu ok banget! Selain itu sisanya hanya masalah teknis; sirkulasi udara yang belum maksimal (please add AC), pemilihan meja-kursi yang mungkin harus ditata ulang: daerah untuk sekedar nongkrong sambil minum dan daerah untuk makan-makanan berat.

BONUS

Tadi saya sudah bilang kalau Nien’s Corner ini bagian dari Latief Inn, sebuah penginapan bintang dua di Bandung, maka dari itu, ngga afdolkan kalau kita ngga tau bagaimana sih rupanya Latief Inn ini. Sayangnya saya tidak bisa bilang banyak tentang pelayanan di sini, karena  hanya baru merasakan hotel tournya aja, tapi percaya deh, kamarnya nyaman, homy dan relaxing banget dengan harga yang relatif terjangkau.

Receptionist desk - Latief Inn, Bandung
Dining room plus coffee shop, buffet - Latief Inn, Bandung
Deluxe room - Latief Inn, Bandung

Hall room - Latief Inn Bandung, dengan pigura berisi kain songket
Meeting Room - Latief Inn, Bandung
Keren ga sih? Dengan fasilitas penginapan: 24 hours room service, hot-cold water, serta wifi, kayaknya bisa jadi pilihan untuk bermalam ketika lagi di Bandung. Informasi lebih lanjut bisa langsung meluncur ke sini, ya...

Latief Inn - Nien's Corner
Jl. Natuna No. 16 Bandung
(022) 4200369 - 4209208
www.latiefinn.com

See you!

|This restaurant is no longer opened|

You May Also Like

3 comments

  1. Kereeen ulasannya dan photo - photonya juga TOP pisan lah teh Nonik,,,

    ReplyDelete
  2. foto2nya gak nahaan..... kualitas papan atas

    ReplyDelete
  3. eh ada namaku disebut. hehe. tapi minumannya emang slurp kan

    ReplyDelete