Kopi Panggang Bandung Kini Hadir di Dago

by - Thursday, September 24, 2015


Akhir pekan di Bandung? Pastilah tidak lengkap kalau belum nongkrong di seputaran area Dago. Kayak saya donk, akhir pekan lalu saya memutuskan untuk ngopi cantik di Kopi Panggang. Dari namanya saja kita sudah bisa nebak pastilah menu andalannya adalah minuman kopi.

Hadir mengusung konsep coffee shop, Kopi Panggang milik Kang Huda Ramadhan ini sudah berdiri sejak 10 Maret 2013 dan dulunya berlokasi di Jl. Tubagus Ismail. Namun malangnya, Juli 2015 lalu terjadi kebakaran yang menghanguskan bangunan rumah makan tersebut, sehingga baru-baru ini mereka pindah ke daerah Dago, tepatnya di Jl. Ir. H. Juanda.

Untuk memasuki area Kopi Panggang kita harus menaiki beberapa anak tangga, karena posisi bangunannya yang berada sekitar dua meter di atas permukaan tanah, hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi bangunan yang berada di daerah tanjakan sehingga mau tidak mau, bangunannya menggunakan split-level dan semi-outdoor. Tinggi dindingnya hanya sekitar 1,5 meter dan sisanya dibiarkan terbuka dengan hanya beratapkan asbes.



Malam itu, Kopi Panggang terlihat penuh, hampir semua kursi terisi dengan pelanggan, saya beruntung (setelah beberapa saat) mendapatkan posisi tempat makan di salah satu sudut yang berbatasan dengan jalan utama, namun mau tidak mau saya harus menahan sabar dengan suara bising kendaraan yang lalu lalang (karena akhir pekan memang selalu ramai di daerah ini).

Tidak lama seorang pria pramusaji berseragam hitam membawakan saya daftar menu untuk kemudian saya pilih. Wow, ternyata menu di Kopi Panggang ini cukup bervariasi; baik makanan dan minumannya. Sayangnya, pria yang kebetulan membantu saya tidak cukup supel dalam memberikan pandangan subyektif tentang menu andalan yang paling banyak dipesan di sini.

"Semua menu (merupakan) andalan di Kopi Panggang," Ketika saya tanya makanan apa yang paling direkomendasikan. Saya agak kesusahan memilih karena memang pilihannya banyak dan harganya cukup terjangkau, and it's frustrating when you can't find any help deciding as a first-timer. Sebetulnya saya orang yang lebih suka ketika si pramusaji bisa dengan fasih berceloteh tentang menu-menu asyik khas tempatnya.

COFFEE

Sulawesi Toraja Kalosi Coffee by Kopi Panggang
Karena spesialisasi tempat ini adalah kopi, maka saya memulai dengan memesan minuman terlebih dahulu. Menu kopi kekhasannya adalah West Java Lembang, West Java Puntang, West Java Garut, Sumatra Aceh Gayo, dan Sulawesi Toraja Kalosi dengan harga straight hanya Rp. 15.000-an. Metode pembuatannya ada empat; Presso, V60, Vietnam Drip, dan French Press. Sayapun memilih Sulawesi Toraja Kalosi, karena kebetulan saya pernah minum kopi aslinya. Sekedar informasi, jenis kopi yang dipilih adalah Arabica.

Rasanya? Hampir seperti yang biasa saya minum, keasamannya dan tingkat kepahitannya. Namun sayang, airnya kebanyakan - atau bubuknya kurang banyak, sehingga kurang nampol rasanya. Malah rasanya hampir hambar karena memang takarannya tidak sesuai.

Cafe de Rum ala Kopi Panggang
Mencoba berpindah ke minuman manis, mata saya menuju ke deretan nama-nama Emericano, Cafe Mucca, Cafe Bulle, Afrogato, Cafe Hatte dan seketika tertarik untuk memesan Cafe de Rum. Semacam kopi susu dengan rum. Seharga 17ribu saja, rum yang digunakan tidak menggunakan alkohol, namun rasanya cukup nikmat.


Masih dari deretan minuman, perhatian saya tertuju di kategori custom drink, dan sayapun tergoda untuk mencoba red velvetnya. Cukup enak walaupun rasa manisnya begitu mendominasi saya sampai tidak merasakan keasaman raspberry yang katanya terkandung di dalamnya.

FOOD

Tidak kenyang dengan hanya minum saja, sayapun memutuskan untuk nyicipin beberapa menu makanannya. Kebetulan Kopi Panggang menawarkan beberapa menu khas Bali. Wah, kebetulan nih saya sudah lama ngga ke Bali #kode. Boleh donk, saya pesan Nasi Campur Betutu dan Nasi Campur Sisit.

Nasi Campur Betutu
Nasi Campur Sisit
Dengan harga hanya Rp. 23.000 untuk masing-masing nasi campur ini, rasanya cukup bisa diterima. Sayangnya, di beberapa bagian, bumbu ayamnya kurang meresap - terutama pada ayam betutu. Rasa telur bumbu Balinya hampir mirip telur balado dan bumbunya terasa kurang banyak (jangan-jangan saya yang maruk?). Plecing kangkung yang harusnya kami terima malah berganti dengan tumis kacang panjang yang mana pramusajinya tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi. But, di sisi lain, sate lilit dan lawarnya enak dan gurih!


Di barisan masakan Meksiko, saya memilih Beef Burritos seharga Rp.20.000 di tengah pilihan lain; Chicken Enchiladas, Red Bean Soup, Chicken Fajitas, Nachos, dan Chilli Con Came. Menu ini rasanya agak dipaksakan kalau buat saya, tortillanya cukup enak tapi kurang renyah. Saus tomatnya terlalu banyak sehingga rasa daging cincangnya malah dikalahkan dengan rasa saus, buat saya agak sedikit eneg. Mungkin lebih baik jika baluran sausnya dikurangi dan ditempatkan di piring terpisah.

So far, pengalaman pertama saya bermalam minggu di Kopi Panggang ini agak complicated. I love the cheap price they offer. Harganya untuk sebuah kedai kopi di kawasan Dago memang bisa dibilang terjangkau, namun kualitas masakannya harus sedikit diperhatikan (I mean, citarasanya bisa diterima dan cukup memenuhi standar) tapi setidaknya penyajiannya harus lebih diperhatikan. Misal, beberapa makanan tidak disajikan dengan suhu fresh atau panas, sehingga rasanya seperti sudah lama didiamkan. Rasa kopi yang saya minum juga sepertinya tidak diseduh menggunakan air yang benar-benar panas (saya bahkan mengira diseduh dengan air dispenser) - ini cukup fatal sekali bagi pelanggan yang benar-benar ingin menikmati kopinya.

Selanjutnya mungkin dengan pelayanan, saya akan lebih berterima kasih jika pramusaji saya bisa memberitahu menu rekomendasi dan cukup tanggap dengan kebutuhan para tamu mereka - despite saat itu kondisi rumah makan sedang ramai.

But, I hope this isn't my last time being here, karena memang saya masih penasaran dengan empat rasa kopi lainnya. So, maybe next time I'd visit here again.

Untuk yang penasaran ingin berkunjung ke sini, ini alamatnya:
Kopi Panggang
Twitter | Path | IG : kopipanggang
Open Daily 12.00 - 24.00 [Free WiFi] | 
 Jl. Ir. H. Djuanda no 391

See you!

You May Also Like

13 comments

  1. suka minum kopi ya mbak ?sy juga. tempatnya asyik ya enak buat nongkrong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suka mbak, iya tempatnya enak :) kapan-kapan kalau ke Bandung boleh mampir.. Hehe

      Delete
  2. Anda biasa minum kapal api kali...ckckckckk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai anon, minuman apapun bukan hanya kopi - kalau takaran dan seduhan airnya pas rasanya pasti enak, mau merk apapun.

      Anda ngga pernah minum kopi ya?

      Delete
    2. hehe ... anon bu, bukan Anda :D

      Delete
  3. wah saya suka yang murah meriah mba hihihi...syaang ya, namanya kopi panggang kalau kopinya malah kurang nendang...

    ReplyDelete
  4. Aku sempet icipin kopi Vietnamnya, enak meski kerasa banget asam hehehehe... tapi cappucinnya enak. lebih aman buat lambungku.

    ReplyDelete
  5. Aku sempet icipin kopi Vietnamnya, enak meski kerasa banget asam hehehehe... tapi cappucinnya enak. lebih aman buat lambungku.

    ReplyDelete
  6. Aku cuma baru nyicip americano saja :D

    ReplyDelete
  7. itu kopi yg warna pink lucu yah, girlieee gt hehe :) dan baru tau ada rum yg tdk mengandul alkohol *kudetakut* :)))))

    ReplyDelete
  8. ngeliat foto kopinya aja, aku udh ngerasa kalo rasanya ga enak... encer bgt soalnya mba ;p jd sprtinya ga recommendedlah ya dtg ksana... buatku sih hrg yg murah malah bikin curiga kalo rasanya ga enak -__-

    ReplyDelete
  9. Kurang nampol, ya. Sini tak tambahi bubuk. :D

    Btw, harganya terjangkau bgtttt ya, Mbak.

    ReplyDelete
  10. Kalau mbak suka versi angkringan dgn tempat seadanya, monggo mampir di outcrop coffee jl japati:)

    ReplyDelete