Review Enigma Net TV Episode 1

by - Wednesday, September 16, 2015


Haloh teman-temin! Belakangan saya lagi agak galau karena sebagai pencinta seial detektif, tidak banyak film seri detektif yang bagus akhir-akhir ini. Tentunya di samping saya nungguin Elementary Season 4 dan Sherlock (Benedict Cumberbatch) yang juga season 4 - Oh, yes, I'm a Sherlock lover! (...Walaupun baca bukunya belum selesai). Sebenarnya sih kalau baca novel detektif saya lebih suka Agatha Christie, but, okay okay, I will continue reading my Sherlock.

Nah, berhubung saya lagi haus banget sama segala hal berbau thriller, crime scene, dan segala macam misteri yang memutar otak. Tentulah kehadiran Enigma Net TV ini cukup bikin saya bertanya-tanya. Ciyeh, Net TV kembali menghadirkan tayangan bergenre baru - yang kayaknya belum disentuh secara total oleh perfilman Indonesia nih.

Apakah mungkin ini pengaruh dari serial drama detektif Seo In Guk baru-baru ini, I remember You, dimana saya malah jatuh cinta sama Park Bo Gum dan terkesima dengan psychoticnya D.O?

nb: btw, saya ngga nonton serial True Detectivenya HBO, somehow gaya penceritaan antologinya bikin saya ngantuk, dan, I don't know why Matthew Mcconaughey yang karakternya terlihat cool itu buat saya boring banget - just another version of Sherlock but seriously fail. Mungkin kalo uda depressed banget baru mau nonton lagi.

Jadilahhhhh... Walaupun rada telat nyadarnya saya nonton jugak! Dan saya nonton episode 1 nya baru TADI MALAM (dimana jam tayangnya udah bulan Agustus 2015) - iyah, makanya saya jangan dikeplak dulu. 

Dan, karena saya nasionalis, maka saya memilih untuk membahas ENIGMA daripada I Remember You/Hello Monsternya Jang Nara yang sudah tamat duluan itu.

nb (lagi): ketika tulisan ini ditulis, saya belum nonton episode 2 yah! I'm about to watch it. Jadi saya sama sekali belum nonton progressnya. Jadi anggap saja tulisan ini dilihat dari sisi sudut pandang first timer.

10 KEJANGGALAN ENIGMA NET TV EPISODE 1

Ok, saya tidak bahas sinopsisnya ya. Inti dari kasusnya adalah mengungkap kematian gadis bernama Alana yang tertembak di daerah bahu kiri dan ditemukan di tengah padang di pinggiran kota. Dengan asumsi, para pembaca sudah nonton, maka ada beberapa hal yang bikin mata saya sakit karena ada beberapa hal yang tidak masuk akal di sini.

SECARA TEKNIS
1. Saya ngga tau apa alasannya, tapi selama saya nonton film detektif, cara pengambilan gambarnya selalu aktif, jelas, dan tidak terlalu banyak sisi estetika ditampilkan (yang biasanya lebih mengacu ke film drama). Sedangkan pengambilan gambar Enigma ini terlalu bagus dan sarat detail yang tidak berguna untuk sebuah drama misteri; sebut saja ketika Alana berjalan-jalan di sisi kolam renang (untuk menjelaskan betapa kaya dan kesepiannya dia), well, itu bukan sesuatu yang biasanya ditampilkan di drama misteri sih. Pengambilan gambar sebuah ruangan juga kesannya terlalu bertele-tele, tidak to the point, camera yang shaking dan tidak steady, yah... Serasa nonton pre-wedding video ajah.

2. Biasanya, dalam tipikal film detektif, babak demi babak ditampilkan dengan timeline yang terus maju dan flashback yang masuk akal. Sedangkan Enigma ini memberikan flashback yang penonton ngga tau dilihat dari sudut pandang siapa. Kesannya seperti buku dengan sudut pandang pembaca mengetahui segalanya. Sehingga mengurangi nilai misteri itu sendiri. Saya ngga melihat para detektif itu bekerja begitu detail selain hanya mewawancarai orang tua Alana, baca buku harian Alana dan memeriksa hasil otopsi Alana. Teman-teman yang seharusnya diwawancarai dalam kurun waktu sesingkat mungkin malah harus menunggu keesokan harinya.

3. Yang lucu adalah, para detektifnya juga overlydramatic juga! Biasanya kalau polisi sudah menemukan kerabat terdekat yang diinformasikan anggota keluarganya meninggal, polisi LANGSUNG akan menemani kerabat tersebut untuk mengidentifikasi. Ini nggak, masih harus sedih-sedihan bareng di rumah, sambil polisinya cari-cari barang bukti buku harian, baru nganter ke rumah sakit. I mean, bagi tugaslah, polisi tersebut langsung antar kerabat melihat jenazah, sembari menyuruh polisi lain mencari barang bukti pendukung informasi di rumah korban.

4. Makeup terlalu tebal semua. Bahkan makeup mayat menggunakan make-up nude. Natural aja napa...

5. Analisis yang terlalu dangkal dan tidak masuk akal. Salah satu polisi terlihat mengambil kesimpulan terlalu cepat dengan mengatakan bahwa luka Alana merupakan ditembak oleh laki-laki dan motifnya adalah kecemburuan/asmara. Come on, dude! Anda cuma lihat mayat doank udah bisa ngomong gitu? Bagaimana dia bisa mengambil kesimpulan seperti itu tanpa mengetahui: jenis peluru, jenis senjata yang digunakan, karakter pengguna senjata, mengetahui latar belakang korban, mengetahui kehidupan korban dan keseharian korban. Saya bisa juga donk mengira pembunuhan tersebut merupakan motif uang: Alana yang kaya kerap meminjamkan uangnya namun salah satu temannya yang tidak mau membayar malah membunuh Alana. Hayo???!!!!

6. Lagu latar. Ini film detektif atau film misteri atau film hantu?

7. Investigasi yang bertele-tele. Sayangnya, cara polisi menginvestigasi kedua orangtuanya terlalu datar dan bertele-tele, saya jadi ngantuk. Kalau saya jadi orangtuanya, saya bakal cepet-cepet panggil pengacara tuh, right from episode 1. Pertanyaan polisipun tidak terlihat mengorek hubungan keluarga mereka secara dalam; kudunya sudah harus bisa mendapat hasil tuh mengenai perselingkuan Ibu Alana. 

8. Lucunya lagi, saya tidak pernah melihat ada orang tua yang menuliskan nama anaknya di ponsel dengan nama panjang. I mean, there is Alana Jasmine. Wong, nama saya di ponsel ibu saya saja hanya nama panggilan saya. Saya rasa walaupun ada ketidakdekatan antara orangtua dan anak, ngga mungkin ayah dan ibu sama-sama nulis nama panjang anak mereka di ponsel. Doesn't make sense at all.

9. Baru tau kalau lencana polisi sekarang jadi kalung, is it a trend... Or....?


10. NET TV lagi bikin serial drama atau bikin kumpulan buku puisi???


Mayat Wanita Di Tengah Ilalang. Seriously? Bikin header berita kriminal kayak gitu??? Bahkan menampilkan foto korban? Mari kita tanyakan para jurnalis koran.

***

Begitulah sebagian dari pemikiran saya terhadap serial Enigma Net TV ini, namun dibalik kejanggalan-kejanggalan (yang belum semua) diutarakan, saya tetap bangga dengan Net TV yang mencoba membuat gebrakan dengan membuat sesuatu yang beda di layar kaca Indonesia. Saya akan terus mencoba mengikuti serial ini dengan harapan serial ini bisa lebih baik dan lebih mengedukasi. Terutama, serial detektif tentunya lebih mengarah ke ilmu deduksi, sehingga, kalau jalan cerita Net TV tidak masuk akal, maka saya akan dengan senang hati mengkritik. Hihihi.

Untuk episode 2 nya, nyusul kalau saya sudah nonton ya.

See you!

You May Also Like

8 comments

  1. sebagai pecinta genre thriller mystery, gue juga nonton enigma episode satu 2 minggu lalu. sebenarnya agak kecewa, iklannya sih keren... gue kira bakal oke serial detektif net ini. tapi... malah lebih banyak ke unsur dramanya daripada konfliknya. jadi agak males nontonnya... cukup berbeda jauh sama sherlock holmes. cukup..

    ReplyDelete
  2. thank you for the review ... baru norton 3 menit pertama di youtube langsung berhenti dan cari reviewnya. Suaranya yang didubbing alias bikini pakai on set voice bikini aneh. Ketika lihat iklannya berharap ini bisa semacam NCIS atau Law Order gitulah, let's not talk about CSI dulu. Eh tak tahunya sama I Remember You produksi Korea aja jauh :(

    hiks. semoga penulis skenario dan sutradaranya baca review ini deh jadi makin baik episode-episode berikutnya.

    ReplyDelete
  3. Sebenernya yang gue khawatirkan adalah, kebanyakan series kan pilot dan finale-nya yang paling bagus, tapi Enigma ini pilotnya aja udah kacau. Menurut gue sih agak naif untuk berharap episode selanjutnya bakal improve banyak.

    Kalo menurut gue sih, penulis skenarionya (Haqi Achmad--cek wikipedianya orang yang dia bikin itu drama yg kebanyakan cheesy semua) kurang riset, dan nggak menyadari kalau ada beban yang ditanggung dalam bikin genre seperti ini. Dan untuk creatornya, menurut gue mereka cuma pengen gaya aja bikin genre keren, tanpa mempertimbangkan bahwa eksekusinya emg gabisa sembarangan.

    Yang gue sedihkan adalah, saking jeleknya acara-acara TV di indonesia, acara crime dangkal ini masih dimaafkan karena emang ini yang pertama kali -_- kalau di TV Amerika mungkin seriesnya bakal dicancel karena review yang gak bagus dan mempengaruhi rating.

    Dan untuk audiens, kalau menurut gue sih audiens indonesia banyak yg udah cerdas dan punya banyak referensi untuk cerita misteri, tapi banyak jg yang emang masih belum kritis dan buat kreator shownya, selama masih ada yang nonton yaa pasti diabaikan aja review2 jeleknya -_-

    Ya tetep aja gue masih punya harapan, gue pengen banget some day, series2 di Net sekarang ini menjadi series yang bakal dianggap paling jelek di Indonesia (maksudnya udah gaada lagi tuh drama yang lebay2 kayak di stasiun TV lain) dan yang paling bagusnya yaa emang beneran bagus. Bukan bagus yang dimaklumi (seperti kondisi series Net sekarang).

    Dan tentunya emang gak mudah. Cobalah produser2 TV mulai hire orang-orang yang beneran 'cerdas' buat mengeksekusi genre cerdas kayak gini biar orang-orang cerdas yang nonton nggak ngerasa bodoh untuk nyempetin nonton.

    ReplyDelete
  4. terlalu bagus dan sarat detail yang tidak berguna << sumpah ngakak bacanya, aku ini baca sambil makan, sampai keselek, untung di meja kompie udah sedia segelas air putih kesayangan XDDD

    gak pernah nonton tipi, eh bukan gak pernah juga sih, cuma jaraaaaang banget, paling sepintas lalu tengok. Biasa liat tipi juga cuma berita2 doang, kalau gak ya india =__= nyokap demen banget dah lihatnya

    http://farrelandmerry.blogspot.co.id/

    ReplyDelete
  5. Di saat serial CSI udah tutup usia, kita baru bikin :D hehehe ya gpp deng. Tapi judulnya ketinggian buat kualitas serialnya euy. Pas lihat iklannya juga agak gimana gitu, narasi suara ceweknya didramatis-dramatisin :D

    Kalo gak salah dulu pernah ada serial di tivi one apa trans tivi yg sejenis Enigma, yang main dian sastro. nah itu bagus tuh pas dian sastro yang mainin karakternya hehehe. Kita emang kurang perhatiin detail-detail informasi yang nyata yak. Semuanya dibuat terlalu buatan, padahal detailnnya sekecil nama panggilan yg nongol di layar HP :P

    ReplyDelete
  6. Iya saya juga setuju, detailnya kurang banget. Dan mengenai lencana polisi yang dikalungin, saya sih langsung kepikiran Esposito dari crime series Castle (my favorite!). Mungkin mau ikut-ikutan biar keren :D

    Dan satu lagi yang paling ganjel adalah, di awal, pas polisi keluar dari beli kopi, dia dihadang sama anak-anak berandal dan langsung berantem gitu aja. Di depan umum. Come on, he's a police. He could've done better than just fighting in public for no apparent reason.

    Semoga episode-episode mendatang semakin baik.

    ReplyDelete
  7. Thrillernya emang keliatan kayak keren banget, tapi pas udah nonton kecewa haha
    Banyak adegan yang g penting dan g ada hubungannya sama hal yang berbau detektif, lencana polisi yang digantungkan itu juga agak menggelitik (tapi serial the mentalist ada juga sih yang nggantungin lencana jadi kalung gtu), dan kupikir serialnya kayak CSI, NCIS, the listener, atau serial crime bikinan amerika yg durasi waktunya 45 menit per episode langsung tamat. Eh ternyata masih bersambung dan entah itu akhirnya misteri kematian alana selesai sampe episode berapa. Mungkin kalau mau ada sekuel pembunuhan lain yang perlu diperhatikan tetek bengek di atas kali ya.. but tetep good job buat net tv udah keren bisa nampilin genre serial yang gak kayak tv lokal lain :)

    ReplyDelete