Budaya Sensor Mandiri; Tutup Mata, Dik, Demi Masa Depan Lebih Baik

by - Tuesday, August 30, 2016


Suatu kali saya terjaga dari tempat tidur sesaat merasakan tidak ada orang tua menemani di kedua sisi. Kamar masih gelap dan sunyi, sinar matahari juga belum nampak dari balik jendela. Satu-satunya penerangan hanya dari layar tv yang masih menyala tanpa suara di depan tempat tidur. Teringat sesuatu, secara cepat saya melihat ke arah jam dinding, 

"Hm, masih jam empat, satu jam lagi kartun kesukaan saya main di tv," pikir saya. Tanpa beranjak dari tempat tidur saya membiarkan mata saya menikmati cuplikan gambar demi gambar yang ditayangkan, menunggu kartun saya, menanti pagi menjelang.

Awalnya hanya ada kumpulan orang menari di bawah gemerlap lampu, seakan sedang menikmati musik yang keluar dari kotak speaker, orang-orang yang terlihat tertawa, bercanda, sampai akhirnya, hanya ada dua orang; pria dan wanita, keduanya saling berkejaran menuju satu ruangan, memasuki sebuah kamar, lalu,-

YA AMPUN!! Ada teriakan yang mengagetkan saya. Pintu terbuka lebar dan tante saya sudah berdiri di sudut kamar. Saya tidak ingat bagaimana tepatnya, yang jelas beliau mengambil remote, mematikan tv, segera memanggil ibu seraya menyentak saya.

"Kamu nonton apa, Noni!" Seketika ibu saya juga melesat memasuki kamar, "Tuh, anakmu barusan nonton film x!" Tante mengadu pada ibu saya yang masih bingung.

Terdiam, tidak tahu saya salah apa, saya hanya menunggu kartun Bananas in Pyjamas!

Visual, audio, dan kinestetik merupakan tiga jenis gaya seseorang belajar. Melihat, mendengar, dan diberi contoh. Kehadiran TV saat ini tak diragukan mampu menjadi sarana dalam menyampaikan informasi menggunakan ketiga gaya tersebut sekaligus! Sungguh efektif. 

Terbukti bagaimana saya mengingat peristiwa di atas, padahal kejadiannya terjadi lebih dari dua puluh tahun silam, saat saya masih berusia 6 tahun.

Bukan itu saja, setelah kejadian itu, saya masih sempat beberapa kali kecolongan tidak sengaja melihat tayangan serupa lainnya di saat tidak ada yang mengawasi. Dan sungguh semua terekam dengan baik walaupun saya tidak menginginkannya! Dampaknya, hal itu membuat pikiran saya terganggu; penasaran, mau lihat lagi, mau nonton lagi, semuanya bercampur dengan pergumulan batin yang mengatakan bahwa saya tidak seharusnya menonton fim itu!

"Ih, dasar loe piktor," Mungkin teman-temin anggap saya begitu.

Tapi ini fakta, lho, tanpa mencoba membenarkan diri sendiri dan sok suci. 
Saya yakin sebagian dari kita juga pasti pernah merasakannya.

Dewasa ini kita sudah banyak menyaksikan bagaimana anak mampu menyerap apa yang disajikan oleh TV. Dengan mudahnya mengingat apa yang dilihat dan didengar. Tidak terbatas TV, sekarang anak-anak juga sudah terbiasa ke bioskop serta mengakses film dari internet melalui gadget. 
Luar biasa!

Andaikan sebagian dari anak-anak tersebut tidak mempunyai tante seperti saya yang akan berteriak dan segera mematikan TV.

Andaikan anak-anak tersebut mampu dengan bebas menonton film-film terlarang itu dari awal hingga akhir.

Tidak perlu berandai-andai. Kenyataan yang ironis sudah banyak terjadi di depan mata. Sudah berapa banyak tindak kriminal kejahatan yang banyak dilakukan anak-anak di bawah umur yang didasari pengaruh TV?
Jelas, kita tidak bisa menutup mata, berpura-pura seakan-akan hal ini tidak pernah terjadi.

FILM, IKLAN, DAN SENSOR
Saya paling benci kalau film disensor. Waktu kecil. 

Saat masih SD, saya pernah berbohong pada orang tua akan menonton film bioskop, ngakunya nonton film anak-anak, tapi malah nonton film AADC yang notabene film remaja bersama beberapa teman sekelas. 

Pas, pas banget, paaaassss banget, adegan Rangga sama Cinta di airport mau berpisah, saat kedua wajah mereka mendekat. 

BLAP. Mati lampu! Semua penonton berteriak "Huuuuu.....,"

Bagaimana nanti kalau saya punya anak? Jangan-jangan mereka juga bakal berbohong pada saya untuk menonton film-film yang belum cukup umur?
Beberapa detik kemudian lampu bioskop kembali menyala namun Rangga dan Cinta sudah berpisah. Grrr! Kejadian itu epic banget karena merupakan awal-awal saya dapat izin ke bioskop. Sekarang mah udah biasa sama momen mati lampu di bioskop, hahaha.

Namun bukan mati lampunya yang jadi masalah. Adegan yang terpotong itu, lho! Susah cari gantinya. Sudah bayar karcis full, tapi adegan penting malah dijabel. Zaman dulu belum ada keping film bajakan, tidak bisa nonton streaming untuk mencari adegan yang hilang, yang ada mulut manyun karena dianggap gagal nonton AADC.

Dan ketika sekarang saya berkaca mengingat perbuatan saya, yang ada hanyalah perasaan bersalah terhadap orang tua. Bagaimana nanti kalau saya punya anak? Jangan-jangan mereka juga bakal berbohong pada saya untuk menonton film-film yang belum cukup umur? 

Serius, pikiran-pikiran ini menghantui saya. Seremkan?!

Di sinilah saya merasakan betapa penting keberadaan sebuah Lembaga Sensor Film (LSF) di Indonesia dalam meneliti dan menilai sebuah film sebelum ditayangkan kepada masyarakat. 

Bayangkan ketika anak-anak remaja  menonton film dewasa yang mana berisi kekerasan, perjudian, narkotika, pornografi, pelecehan, dan SARA. Semua ditayangkan secara bebas. Waduh, mau jadi apa generasi bangsa kita?

Sensor film di Indonesia sudah ada sejak tahun 1919, dibentuk oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai salah satu kepentingan politik. Film-film Amerika yang masuk ke Indonesia tidak boleh mengandung demokrasi, hak kebebasan dalam berpendapat, serta komunis. Jika ditemukan, isi film tersebut dipangkas habis agar tidak mempengaruhi pola pikir bangsa. Disensor demi membatasi wawasan bangsa.

Bahkan hingga tahun 1992, peraturan sensor film di Indonesia sangat ketat dalam membatasi tema, adegan, dan jenis film yang boleh beredar. Hingga akhirnya pertengahan tahun 2006, para sineas film memprotes LSF karena menganggap memasung kreatifitas masyarakat

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO.8 TAHUN 1992
TENTANG PERFILMAN

SENSOR FILM
Pasal 33
(1) Untuk mewujudkan arah dan tujuan penyelenggaraan perfilman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan Pasal 4, setiap film dan reklame film yang akan diedarkan, diekspor, dipertunjukkan, dan/atau ditayangkan wajib disensor.
(2) Penyensoran dapat mengakibatkan bahwa sebuah film: a. diluluskan sepenuhnya; b. dipotong bagian gambar tertentu; c. ditiadakan suara tertentu; d. ditolaknya seluruh film; untuk diedarkan, diekspor, dipertunjukkan, dan/atau ditayangkan.

Sadiskan? Tak ayal keberadaan LSF sangat dibenci oleh para sineas karena dianggap tidak melihat film sebagai seni dan hiburan. Tapi di sisi lain, banyak juga yang setuju dengan keberadaan LSF dalam rangka menghindarkan bangsa dari kerusakan moral.

Garin Nugroho bahkan sempat berkata, "LSF mensensor film dengan sewenang-wenang. Tidak ada koordinasi ataupun pemberitahuan pada saat mensensor bagian film. Karena mungkin saja bagian yang disensor adalah masalah abadi dan merupakan perjuangan seumur hidup dari pembuatnya."

Beruntunglah permasalahan itu sudah tidak ada lagi semenjak pengesahan UU Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Perfilman (Pasal 5, Pasal 60 ayat (2), Pasal 61 ayat (2), Pasal 58 ayat (1) dan ayat (4)), LSF tidak diperkenankan mengurangi, meghilangkan, atau memotong isi film. Lalu bagaimana cara kerjanya?

LSF akan mengembalikan film kepada para pembuatnya jika ditemukan beberapa bagian yang tidak sesuai dengan peraturan LSF untuk kemudian diperbaiki dan direvisi, sehingga tidak ada lagi pemotongan sadis ketika menonton film dalam negeri.

Yang pasti, jangan sembarangan menayangkan film di tv atau bioskop tanpa ada tanda lulus sensor, lho, karena bisa berakibat denda sebesar 1 M!

BUDAYA SENSOR MANDIRI: 
MENGHINDARKAN MULTITAFSIR PARA PENIKMAT FILM
Setidaknya ada dua jenis tayangan yang biasanya kita nikmati: film dan iklan.

Film merupakan karya seni budaya yang mengandung pranata sosial, media komunikasi massa yang mana dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara untuk dapat dipertunjukkan. Sedangkan iklan adalah bentuk publikasi dan promosi sebuah produk.

So, sejatinya, walaupun film dan iklan merupakan sebuah gabungan karya seni budaya dan teknologi, tetap harus mengandung nilai-nilai hidup serta tujuan yang ingin disampaikan pada penonton. 

Tapi bukan berarti kalau sebuah film dan iklan bebas dari multitafsir di antara para penontonnya.

Ada yang menilai tayangan gulat itu olahraga, tapi ada juga yang menganggap kekerasan. Tidak mungkinkan kalau tayangan gulat disensor semua, apa yang mau ditonton? 

Gaya hidup urban seringkali menunjukkan kebebasan yang berlebihan, hal ini bisa menjadi masukan untuk anak muda dalam menilai mana yang baik dan yang tidak, tapi tidak sedikit remaja yang menyerap mentah-mentah tayangan tersebut dan dijadikan panutan hidup. Film seperti ini terkadang tidak mungkin dipotong habis, apa yang ditonton? 

Sebagai penggemar cerita bertema kriminologi, tentu saja banyak adegan kejahatan dan perkelahian yang disajikan sebagai bumbu cerita, namun kalau semua dihilangkan, jadi apa nanti kisahnya?

Intinya, ada banyak faktor kasat mata di dalam film sehari-hari yang belum bisa dijangkau oleh LSF, hal itulah yang mendasari "BUDAYA SENSOR MANDIRI." maksudnya agar kita sendiri, sebagai orang dewasa mengerti dan secara otomatis mengawasi apa yang sebaiknya kita dan orang lain tonton.


Semakin banyak akses menonton - bukan hanya TV dan bioskop, namun juga kepingan DVD bajakan yang dijual bebas dan streaming internet - dapat dipastikan tidak semuanya sudah lulus sensor (saya yakin banget, apalagi DVD Blue Ray original itu bebas sensor!). 

Di sinilah BUDAYA SENSOR MANDIRI sangat penting, terutama dalam membimbing anak ataupun adik kita dalam memilih tayangan yang baik untuk pertumbuhan mereka. Tidak perlu saya ulangkan pengalaman masa kecil yang sempat saya bahas di atas?

Beberapa bentuk Budaya Sensor Mandiri yang bisa kita terapkan pada anak-anak:

a) MENONTON FILM SESUAI KATEGORI.
LSF menetapkan kategori penonton di setiap tayangan yang beredar: (SU) Semua Umur, (13+) Untuk anak masyarakat usia 13 tahun ke atas, (17+) Untuk masyarakat usia 17 tahun ke atas, dan (21+) Untuk masyarakat di atas umur 21 tahun. Untuk tayangan luar negeri sendiri memiliki rating G (General) untuk umum, PG (Parental Guidance) untuk bimbingan orang tua, dan R (Restricted), tontonan terbatas.

b) PERHATIKAN JAM MENONTON
TV pada umumnya memberlakukan jam tayang sesuai jenis film. Film kategori dewasa ditayangkan di jam larut malam hingga subuh, pastikan anak-anak sudah tidur atau tidak sedang menonton TV, ya.

c) MENGETAHUI INTI DAN KANDUNGAN FILM SEBELUM DITONTON ANAK
Dalam mengajak anak-anak menonton bioskop, saya selalu memastikan bahwa tayangannya aman dan sesuai usia, minimal saya sudah menonton cuplikannya dari internet dan mengetahui bagian-bagian yang bisa mengakibatkan multitafsir dalam pengertian si anak (contoh: perkelahian, kata-kata kasar, dan sebagainya).

d) MENDAMPINGI ANAK SETIAP MENONTON
Berat memang, tapi sangat penting untuk mengetahui apa saja tontonan-tontonan yang disukai oleh anak, mendampingi mereka setiap kali menonton dan menyiapkan penjelasan-penjelasan seputar tayangan yang mereka lihat.

e) TUTUP MATAMU!
Ini untuk lebih efektif, saya sudah membiasakan adik saya untuk menutup mata untuk adegan-adegan dewasa yang tidak boleh dia lihat, bahkan terkadang saya sendiri yang menutup matanya dengan paksa, hehehe, kejam tapi demi kebaikanmu, dik.

Bagaimanapun juga, sebagai konsumen sekaligus penikmat film yang tidak ikut campur tangan langsung dalam proses produksi, sangat susah bagi kita untuk melihat dan memastikan sebuah tontonan itu 'aman' untuk masyarakat umum. Wong masyarakat dewasa saja masih suka tersulut emosinya gegara film-film bertema sensitif seputar politik dan SARA, apalagi anak kecil.

Di sinilah kita sebagai orang dewasa juga perlu menanamkan BUDAYA SENSOR MANDIRI dalam diri kita.

a) NIKMATILAH FILM SEBAGAI SENI DAN HIBURAN
Saya menikmati setiap adegan film sebagai seni; akting para pemainnya, latar belakang tempat, lagu latar, pakaian yang digunakan, setiap kalimat yang diucapkan, dan sinematografinya. Saya berusaha untuk menikmatinya sebagai seni dan hiburan sebelum menyerap lebih dalam isi cerita film tersebut.

b) HATI-HATI DENGAN EMOSI
Siapa yang tidak menangis tersedu-sedu saat melihat adegan sedih drama Korea? Siapa yang tidak pernah bermimpi tentang aktor tampan yang ada di film itu. Wuih, saya memang dramaqueen, karena itulah saya benar-benar waspada kalau sedang nonton film drama ataupun roman, berusaha menjaga hati dan perasaan agar tidak baper! Apalagi yang sudah punya pasangan, bisa-bisa malah selingkuh dengan tokoh imajiner!

c) TIDAK BERHENTI MENAMBAH WAWASAN
Film-film yang mengandung filsuf, politik, SARA, ataupun ideologi mampu memberikan dampak yang kuat bagi orang-orang yang tidak berpegang erat pada prinsip hidup masing-masing, baik positif atau negatif. Tidak perlu dibicarakan lagi berapa banyak perseteruan antar golongan hanya karena masalah yang diisukan dari film. Kembali lagi; nikmatilah film sebagai seni dan hiburan, jangan campur adukkan dengan pemahaman dalam kehidupan nyata. It's just a movie.

d) PERHATIKAN WAKTU MENONTON
Bukan hanya anak kecil saja yang harus diingatkan terkait waktu menonton, orang dewasa kadang malah lebih ekstrim kalau sudah asyik nonton, hehe.

e) NONTON FILM ORIGINAL, DONK
Masa hari gini masih nonton film bajakan hasil unduh gratis? Dijamin kalau nontonnya pakai uang, ngga bakal asal-asalan semua film ditontonin.

Yang jelas, tidak mungkin kita menghentikan peredaran film di Indonesia. Dikatakan oleh Wakil Ketua LSF, Drs. Dody Budiatman dalam seminar Roadblog bersama Excite Point, sebagai karya seni, film sangat berperan strategis dalam peningkatan ketahanan budaya bangsa dan kesejahteraan masyarakat lahir batin. Sehingga negara bertanggung jawab dalam memajukan perfilman, termasuk di dalamnya kini LSF harus mampu menjembatani kepentingan masyarakat dan dunia perfilman

Dalam Seminar Workshop bersama Excite Point, salah satunya membahas Budaya Sensor Mandiri
bersama Drs. Dody Budiatman.
Menyatukan idealisme sang kreator film dalam memenuhi kebutuhan para penikmat film dengan tetap berada pada batasan nilai-nilai yang sesuai dengan peraturan perundangan itu SUSAH! Tapi harus. Karena film mampu menjadi pendorong ekonomi yang luar biasa dan sebagai penghasil devisa negara yang cukup besar, tengok saja industri macam Hollywood.

Harapannya tentu saja perfilman Indonesia juga bisa seperti itu, kan? Bukan hanya menjadi sebagai bentuk ekonomi kreatif, namun sukses menjadi alat peneterasi kebudayaan yang tetap mencerminkan ideologi Pancasila dan jati diri bangsa.

Budaya sensor mandiri yang saya lakukan adalah untuk menjaga masa depannya tidak ternoda, ...
Sebelum menutup tulisan yang dibuat sambil menikmati sajian film Indonesia di TV, saya tidak berhenti mengucap syukur ketika dulu mata saya selalu ditutup. Saya tidak perlu melihat adegan pacaran dan kekerasan. Saya (memang) pernah marah namun sekarang saya berterimakasih ketika ibu mematikan TV setiap saya menonton film yang (bagi saya) terlihat biasa namun sebenarnya film dewasa.

Karena akhirnya saat ini, tidak pernah ada penyesalan sedikitpun mengingat dulu saya dibatasi menonton acara-acara di televisi.

Mungkin adik saya marah setiap kali saya menutup matanya, mematikan layar komputer dengan paksa saat dia nonton youtube, saat dia asyik menikmati adegan pasangan pria-wanita, dan mematikan koneksi internet ketika dia melihat film kekerasan.

Namun, semoga dia mengerti bahwa menutup mata tidak membuatnya buta wawasan, melainkan budaya sensor mandiri yang saya lakukan untuk menjaga masa depannya tidak ternoda demi kesempatan yang lebar terbuka. Ayo, Sensor Mandiri!

Sampai bertemu di tulisan berikutnya!


You May Also Like

6 comments

  1. TV lebih banyak negatifnya ya sekarang buat pendidikan anak :(

    ReplyDelete
  2. Udah jarang nonton film di tv sih. Seringnya di dvd. Dan iya, pake sensor mandiri aja. Misalnya dicepetin atau mata anak ditutup. Hehe...

    ReplyDelete
  3. setuju banget mbak...akhir2 ini ortu sibuk gadget..anak sibuk pegang gadget pula. kadang kelupaan bilang tutup mata...tfs.mb noni kyknya udah siap nih jadi ibu nih he3

    ReplyDelete
  4. selamat yah teh Noniq. yuk ah boomingkan budaya sensor mandiri. btw aku suka cerita pembukanya hehehe...

    ReplyDelete