Pengalaman Kerasilk di Jhouse Salon (by Robert) Bandung

by - Thursday, May 23, 2019


Halo teman-temin, ini adalah tulisan pertamaku semenjak menikah. Ciyee, ciyee, jadi istri! Yah, belakangan saya juaraangg banget nulis blog karena dari awal tahun kemarin sempat sibuk dengan segala persiapan pernikahan, rencananya kalau foto-fotonya sudah siap saya mau bikin tulisan terpisah ya!

Nah, sekarang kita kembali ke topik tentang Kerasilk ini. Kenapa sih saya memutuskan untuk melakukan treatment Kerasilk? Padahal sebelumnya saya sudah mantap banget dengan smoothing. Yah, tidak lain karena rekomendasi teman dan iklan-iklan yang berseliweran di media sosial.

Apa sih Treatment Kerasilk?

Berbeda dengan Hair smoothing, yang mana rambut akan menyerap obat dan menjadikan tekstur rambut menjadi lurus semi-permanent (kecuali dipotong), Kerasilk ini merupakan bentuk perawatan rambut, dimana rambut dilapisi dengan keratin. Nantinya kalau pengaruh keratin di rambut sudah habis, ya, rambut akan kembali seperti semula - bahkan tidak menunggu sampai dipotong. Kalau aslinya rambutnya ngembang, ya balik ngembang lagi.

Keratin sendiri merupakan protein alami yang banyak ditemukan pada rambut, gigi, dan kuku manusia. Keratin berperan dalam menjaga rambut tetap sehat dan berkilau. Namun, seiring pertambahan usia dan gaya hidup yang buruk, produksi keratin dalam tubuh menurun dan mengakibatkan rambut menjadi kusam, rusak, dan sulit diatur.

Kenapa saya memilih Treatment Kerasilk?

Mengetahui treatment Kerasilk ini tidak bertahan lama, sebenarnya saya agak galau ketika memutuskannya. Tapi, embel-embel "Lurusnya Kerasilk itu lebih alami dibandingkan Hair smoothing," membuat iman saya kuat dalam melakukan Kerasilk, hahaha. Yah, kalau kata teman saya yang sudah lebih dulu melakukan Kerasilk, memang dia bilang, hasilnya membuat rambut lebih lemas, tergerai alami ngga kayak robot.

Ini penampakan rambut saya sebelum Treatment Kerasilk?

Ngembang dan jujur saya capek banget kalau harus nyatok rambut tiap hari. Duh, rasanya pengen dibotakin. Jadinya hari-hari saya cuma ngegulung  rambut sampe jadinya ikal kayak tampilan di atas, hahaha. Ngga banget deh. Apalagi kalau dikatain "Masa newly wed rambutnya lusuh gitu?" Duile.

Rangkaian Treatment Kerasilk yang saya Jalani

Saya melakukan treatment Kerasilk di  Jhouse Salon (by Robert), lokasinya di daerah Ciateul. Untuk kondisi rambut saya yang relatif tebal (walaupun panjangnya hanya sebahu), saya mendapat harga di kisaran satu jutaan (itu sudah dapet diskon 30 persen, padahal).

Sempat mikir, nih harga overpriced atau bagaimana ya? Ternyata memang obat Kerasilk itu mahal sekali, cyinn.

Salon ini menggunakan rangkaian obat dari Goldwell. Saya sempat ditawarin shampoonya seharga 400 ribu, tapi saya masih belum beli - mikir-mikir dulu, siapa tau ada shampoo Keratin lain yang lebih murah (Hahaha, anaknya itungan).

Durasi treatmentnya sekitar 2,5 jam - jadi kalau teman-temin mau melakukan Kerasilk, pastikan untuk menyediakan waktu secara khusus. Dan pastikan selama tiga hari ke depan tidak melakukan aktifitas berat yang bikin kulit kepala cepat gatal dan berminyak. Iya, karena kita nantinya bakal dilarang keramas selama tiga hari ke depan dan tidak disarankan pakai helm dulu, hihihi!




  1. Rambut saya dicuci, namun tidak sampai digosok keras. Katanya sih menjaga agar kulit kepala tidak perih saat diberi obat.
  2. Rambut saya diberi obat (campuran 1:1 Keratin Shape dan Keratin Smooth dari Goldwell). Caranya dengan mengguunakan kuas dan dioleskan ke batang rambut secara berlapis (kayak lagi ngecat rambut aja).
  3. Setelah itu rambut saya didiamkan 25 menit menggunakan accelator heater seperti gambar di atas.
  4. Setelah 25 menit, rambut saya - tanpa dibilas, langsung dicatok lapis demi lapis. Katanya bagian ini agar obat Keratin menempel di rambut. Proses yang ini tidak nyaman banget, karena obat keratin pada rambut yang dicatok langsung berasap dan asapnya bikin batuk! Mana lagi asisten yang ngerjain rambut saya (ada dua orang) berasa lagi kejar setoran, buru-buru banget narik rambutnya. Beberapa kali catoknya mengenai kulit kepala saya dan mereka cuek aja. Yang ngeselin, salah satu asistennya menyadari saya terbatuk-batuk karena memang arah catoknya membuat asap keratinnya langsung mengenai hidung dan pernapasan saya, eh dia malah ketawa bukannya minta maaf (Misal, "Maaf ya, ini memang obatnya bau" atau inisiatif cari arah lain), dia malah ketawa doank. Bener-benar ngga punya manner.
  5. Setelah acara nyatok beres (thanks, God!), kembali rambut saya dikeringkan dengan blue ray hair dryer sebelum akhirnya dibilas.
  6. Setelah dibilas, rambut saya diberi serum (again, dari Goldwell) sebelum kembali dicatok tapi tidak seintens sebelumnya.
  7. Sudah! Treatment selesai.


Ini penampakan rambut saya yang dicatok sebelum dibilas. Jadi obat keratinnya masih nempel.


Hasil Treatment Kerasilk

Ini dia penampakan rambut saya yang terbaru setelah menjalani perawatan Kerasilk. 

 

So far, saya suka dengan hasilnya yang memang terkesan lurus alami. Wangi produk Goldwell juga cukup enak kalau buat saya. Rambut saya tergerai dengan lembut ngga kayak sebelumnya yang tebal ngembang susah diatur.

Sekarang sih saya masih nyari pilihan shampoo yang lebih murah (mungkin dari Shiseido) tapi kalau mentok, bisa jadi saya mau cari Goldwell tapi yang harga grosir aja ah, hahaha.

Untuk ke depannya, kayaknya saya belum ada rencana lagi untuk di Kerasilk ah, kalau mau diluruskan lagi sepertinya saya masih memilih untuk hair smoothing saja untuk hasil yang lebih permanent.


Disclaimer: Postingan ini merupakan review jujur pengalaman saya tanpa ada kerjasama dengan pihak ketiga baik yang nama/brand-nya sempat disebut dalam tulisan ini. Saya melakukan treatment Kerasilk tanpa disponsori pihak manapun.

Sampai bertemu di tulisan berikutnya!





You May Also Like

2 comments