Mengejar Pagi Demi Ubur-ubur Pangandaran

by - Friday, December 06, 2019


Pasangan mana sih yang ngga pengen langsung honeymoon setelah melangsungkan pernikahan? Kayaknya hampir semuanya mau donk. Sayangnya, hal itu tidak berlaku bagi saya dan suami alami beberapa waktu lalu (ciyeeh yang newly-wed!). Realita menuntut kami untuk harus menunggu sekitar 1,5 bulan baru bisa liburan berdua. Apalagi alasannya kalau bukan karena jadwal kerja yang tidak bersahabat.

Bahkan, malam setelah melangsungkan pernikahan, saya dan suami tidak otomatis tidur nyenyak di hotel. Boro-boro ada adegan romantis bak di film-film drama Korea, wong saudara dan keponakan saya maksa ingin ikut bermalam di hotel yang sama, sehingga sepanjang malam kami hanya sibuk ngobrol hingga kelelahan. Paginya, saya lanjut menemani keponakan berenang (baca: ngasuh). Dan, setelah check out, saya dan suami langsung lanjut ke kantor (masing-masing) untuk bekerja! Tjakeep!

Mengatur jadwal untuk bulan madu ala-ala ini memang rada susah, bahkan rasanya tanpa dikunyah kami sudah hapal tanggalan setahun demi mendapat waktu yang klop. Makanya, ketika kami menemukan waktu yang pas, kami tidak tunggu lama, langsung tancap gas.



Memangnya kami liburan kemana sih? Setelah menyesuaikan dengan waktu, budget, dan transportasi, pilihan kami jatuh pada tidak lain dan tidak bukan; Pangandaran. Salah satu pantai andalan Jawa Barat yang selalu jadi langganan lautan manusia kalau musim liburan. Well, ironisnya, sebagai wargi Bandung, acara bulan madu ini berarti kali kedua saya ke Pantai Pangandaran (yang pertama adalah dulu banget pas masih pacaran, hahaha).

Karena terbatasnya waktu liburan (baca: cuti yang didapat), kami memutuskan untuk menjadikan acara bulan madu ini sebagai sarana self-healing vacation; setelah lelah mengurus persiapan dan kelangsungan pernikahan (berhubung semuanya kami urus sendiri tanpa event organizer apapun, hehehe).

PERJALANAN



Saya dan suami merupakan penggemar pantai, biasanya kalau kami melakukan wisata pantai, pastilah kami mengisi waktu dengan olahraga aktif semacam body rafting, menjelajahi segala macam pantai, snorkeling, terus ngider dari matahari terbit sampai terbenam. Nah, kali ini kami rencananya mau relaksasi aja, kayak pasangan pacaran yang lagi kasmaran di film-film, bedanya uda sah. Hihihi.

Masih setia menggunakan motor, perjalanan dari Bandung menuju penginapan kami di Pangandaran membutuhkan waktu sekitar 6 jam. Sebenarnya bisa lebih cepat, namun berhubung kali ini liburan santai, kami sepakat untuk tidak ngoyo di jalan. Sesekali berhenti menatap pemandangan, ataupun menghirup udara segar sambil menyeruput kopi hitam di warung pinggir jalan.

Tadinya saya sempat berencana membawa rice cooker dan panggangan ikan, biar serasa piknik, tapi berhubung saya hanya pergi berdua dengan suami, daripada repot (misal masak kebanyakan berujung banyak makanan sisa, sibuk menata bawaan di motor, dan sebagainya), kami mengurungkan niat tersebut.

Kami berangkat pukul 15.00 sore dari Bandung dan tiba di penginapan pukul 21.00, wuih debur ombak malam hari langsung menyapa kami dan menjadi musik penghantar tidur kami selama beberapa hari ke depan. Beruntung, waktu yang kami pilih untuk bulan madu bukan musim liburan ataupun tanggal merah, jadi sehari-harinya suasana pantai cukup sepi, adem, tenang, ditambah angin sepoi-sepoi bikin hati tenang, apalagi ditemani suami, #cuitcuit.

 BACA JUGA | Liburan ke Pantai Sawarna, Bayah, Rute Bandung

ROMANSA PANGANDARAN 
DARI SUNRISE HINGGA SUNSET

Berhubung saya tipe orang introvert, yang menyukai alam dan ketenangan, saya puas banget mengunjungi pantai Pangandaran kali itu, this is the real meaning of having fun at the beach.

PAGI-PAGI





Bulan itu, setiap pagi cuaca mendung di Pangandaran, sehingga udara agak dingin. Namun selama kami berada di sana hujan tidak ada turun, bahkan setitik gerimispun. Pagi-pagi kami naik motor menuju pantai untuk menyaksikan pemandangan nelayan yang baru pulang dari melaut. Iya, naik motor, karena penginapan kami lumayan cukup jauh dari pantai, hal itu dikarenakan semuanya yang serba mendadak sampai kelupaan untuk booking hotel, coba kalau saya lagi ngga ribet sana-sini, pasti saya sudah merencanakan untuk memesan penginapan di salah satu OYO Hotels Indonesia yang lokasinya lebih dekat ke pantai.

Sampainya di pantai, kami segera terkagum-kagum dengan pemandangan kapal-kapal nelayan di mulut pantai, warga sekitar bergotong-royong menarik jala yang penuh ikan (yang juga dipenuhi ubur-ubur yang ternyata tidak berwarna pink seperti di film kartun!).


Ubur-uburnya banyak banget sampai akhirnya dibuangin, sedih ya, padahal kalau ada Spongebob bakal ditangkepin satu-satu.


Ketika jala sudah sepenuhnya ditarik, barulah pasar ikan dadakan dibuka. Saya dan banyak pengunjung pantai segera berbondong-bondong melihat gelaran ikan fresh from the sea. Jika beruntung, bisa mendapat aneka hewan laut segar dengan harga menggiurkan. Masak dimana? Tidak perlu khawatir, banyak kok tukang bakar ikan dadakan di sepanjang pantai.

Sarapan pagi ikan bakar di pinggir pantai? Asli wenak tenan.

SIANG-SIANG



Di tengah terik matahari yang menyengat, saya lebih memilih minum air kelapa yang segar sambil menyaksikan anak-anak kecil Pangandaran main petasan, dar-der-dor. Dan lagi donk, makan siangnya ikan bakar sambel terasi dengan nasi panas, bisa nambah berpiring-piring sampai pipi chubby. Sayangnya kamar Hotel di Pangandaran yang kami tempati tidak ada ACnya, jadi kami tidak bisa melengkapi siang kami dengan ngadem mager di kamar hotel, hiks, hiks. Tapi kan, ya, namanya liburan, hus-hus, harus jauh-jauh dari mengeluh donk.

SORE-SORE



Senja datang, paling asyik ya mantai, jalan-jalan main di pantai, berenang-renang membiarkan diri digoda ombak laut sampai kaki tertutup pasir. Dijamin sensasinya bikin lupa dengan urusan deadline kerjaan bahkan segala macam utang, hahaha.

MALAM-MALAM



Setelah another seafood dinner; udang saus tiram, ikan kerapu saus padang, kepiting asam manis, dan cah kangkung, ditutup segelas teh panas - saya dan suami melenggang, melihat-lihat pasar malam Pangandaran. Unik juga, walaupun barang-barangnya kemungkinan impor (hehe) dari Bandung (semacam baju, sepatu, dan tas gitu), tapi jajanannya cukup enak; martabak manis, sosis bakar mayonaise, hingga es putar - dan perut saya membludak.

catatan: saya memang penggemar seafood, tapi kalau teman-temin ngga seberapa doyan, di Pangandaran juga tersedia restoran cepat saji, rumah makan masakan Padang, apalagi kalau cuma ayam geprek, ada kok, jadi jangan khawatir bakal harus terpaksa makan ikan terus selama di Pangandaran, hehe.

Memang, urusan penginapan selama kami bulan madu kemarin memang bikin greget, karena kami baru mencari hotel setibanya kami di Pangandaran. Jadi, baru sekarang saya merasakan bagaimana ngangeninnya Pangandaran, hayang kaditu deui.


Rencananya kalau ada waktu lagi, tahun depan saya mau lagi donk ke Pangandaran, apalagi dengar-dengar Gubernur Ridwan Kamil sedang melakukan pembenahan besar-besaran di Pangandaran dalam rangka menyambut tahun baru 2020. Beliau menjanjikan suasana baru menjelang liburan tahun baru di pertengahan Desember 2019 nanti.

Duh. Jadi ngga sabar. Apalagi baru tadi malam saya dan suami menyadari bahwa persediaan ikan asin kami yang langsung dibawa dari Pangandaran hampir habis!

"Beb, saatnya refill ikan asin, nih, kapan donk ke Pangandaran lagi?"
"Iya, kalau penginapannya lagi murah," jawabnya.

Iya juga, yah, saya membayangkan plesir ke Pangandaran pas musim liburan, wuidih harga hotel dan penginapan sudah pasti ngelunjak semua. 

Etapi, kalau dapat voucher 70% dari OYO Hotels Indonesia buat nginep di Pangandaran mau kan?!

Mau banget!

CATATAN (JUGA HARAPAN) UNTUK MASA DEPAN...



Rencananya kalau saya ke Pangandaran lagi, inginnya ramai-ramai bareng keluarga biar bisa merasakan piknik bakar-bakar ikan biar lebih afdol all you can eat-nya. Apalagi ditambah sambal buatan suami yang sekarang jadi sambal favorit saya!

Jika ada kesempatan lagi, kunjungan saya yang berikutnya ke Pangandaran bakal lebih detail lagi (baca: lebih banyak motret) dalam menjelajahi daerah yang lain seperti Batu Karas, Parigi, Pananjung, apalagi Green Canyon – yaelah saya belum pernah ke sana. Dulu, pas pertama kali ke Pangandaran saya langsung main body rafting di Citumang sampai badan pegal-pegal jadi sudah capek duluan untuk kegiatan yang lain, #dasarlemah.

BACA JUGA | Pengalaman Rafting di Citumang, Pangandaran

Ya, kebetulan OYO Hotels – oiya, buat yang belum tau, apa sih OYO? Kata tersebut awalnya merupakan singkatan dari On Your Own diikuti kata Rooms, jadi OYO Rooms – serasa di kamar sendiri. Oyo Hotels merupakan startup jaringan hotel asal India milik Ritesh Agarwal (founder dan CEO) yang berdiri sejak 2013. Mengadopsi konsep manchise (manajemen dan franchise),  sejak 2018 jaringan OYO sudah hadir di 121 kota dan kabupaten di Indonesia.


Nah, balik lagi, jadi OYO Hotels sudah ada di Pangandaran, pantes dulu pas 2016 saya pertama kali ke Pangandaran, belum ada OYO Hotels. Memangnya apa sih kelebihannya? OYO Hotels menawarkan pilihan penginapan dengan harga mulai dari Rp. 150.000. Ada tiga kategori penginapan yang bisa dipilih: OYO Rooms, Premium, dan Capital O (yang terakhir harganya bisa jutaan).

Mudah kok untuk merasakan pengalaman menginap di OYO Hotels, teman-temin tinggal unduh aplikasinya yang tersedia untuk Android ataupun iOS. Tinggal daftar menggunakan data yang sesuai, lalu pilih deh penginapan di area mana yang ingin teman-temin cari.

Menginap di OYO Hotels sudah pasti kamarnya terjamin bersih (baik kamar tidur dan kamar mandi), dilengkapi dengan layanan WIFI, AC, TV, juga perlengkapan kamar mandi. Saat ini OYO Hotels di Pangandaran sudah tersedia di sekitaran area Pantai Barat, dekat Cagar Alam, Pananjung, dekat Green Canyon, area Pantai Batukaras. Yakin, kunjungan berikutnya ke Pangandaran bisa ngadem pake AC, hahaha.

Bukan hanya menjelajahi pantai dan aktivitas olahraga airnya. Saya juga ingin berbisnis ah, lumayan bawa udang Pangandaran untuk dijual di Bandung. Kan udang serta lobster Pangandaran guede, enak dan gurih. Lumayan, satu kilo berisi 12-13 ekor udang, harganya bisa dijual 200.000 per kilo (lho kok jadi jualan?). Iyahkan, sekarang udang di Bandung (itupun kecil-kecil dan berat di cangkang daripada dagingnya) harganya sudah mencapai 250-300 ribu.

Belum lagi ikan asinnya, bisa deh ngeborong berapa puluh kilo gitu untuk stok keluarga besar. Kebetulan kemarin ketika bersama suami, saya mendapat tempat yang menjual ikan asin enak di Pangandaran, rasa gurihnya mantep dan daging ikan asinnya tebal juga renyah, dimakan pakai nasi hangat dan sambal sudah bikin nafsu makan membara.

Baru nyadar sekarang, selalu ada kisah dari Pangandaran yang bikin pengunjungnya jadi ingin balik lagi dan balik lagi, hahaha.



Jadi, kapan kita mantai lagi?




You May Also Like

0 comments