Rahung Nasution: Ini Citarasa Asli Kuliner Batak

by - Tuesday, August 04, 2015


Mengagumi cita rasa asli Indonesia buat saya sebenarnya baru sekitar tiga atau empat tahun belakangan, ketika saya sudah belajar memasak (#ceilee). Iya, jujur. Sebelumnya saya hanya tukang makan, tinggal bilang ini enak, itu ngga, ini kurang asin, itu sudah mantap. But, seriously everything changes when you start cooking, sepertinya kepuasan hati itu baru terpenuhi ketika kita berhasil menciptakan masakan yang autentik, the real one, citarasa yang benar-benar asli, sebelum akhirnya kita menuju level berikutnya: menciptakan ataupun memodifikasi resep.


Mungkin itu yang dirasakan oleh Rahung Nasution, koki yang tidak mau dipanggil chef, ketika saya berkesempatan menikmati santap malam karyanya di Salian Art, Bandung. Pria kelahiran Sayurmatinggi, Batang Angkola, Tapanuli Selatan ini dengan fasih menceritakan kecintaannya dengan masakan Indonesia, bahkan malam itu saya seperti dibawa melintasi waktu menengok kisah sejarah para nenek moyang bangsa yang ternyata berkaitan erat dengan sajian kuliner asli Indonesia; mulai dari cerita perjalanannya, dewa-dewanya, unsur-unsur masakannya, hingga rempah-rempah kekhasannya... Seriously I'm getting more in love with Indonesian Cuisine.

Diiringi sayup-sayup lagu khas Sumatra, pria yang mulai memasak di usia 13 tahun ini berkata "Indonesia butuh sekolah kuliner." Banyak orang belajar masakan Western dengan pergi ke Amerika, belajar masakan Italia ke Paris, lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita butuh mendirikan sekolah kuliner untuk mengenalkan citarasa asli masakan Indonesia. Setuju!

So, ngga pake lama berikut adalah sajian yang saya nikmati di sana.

1. Ikan Lais Goreng Dengan Salsa Andaliman


Saya baru pertama kali mendengarnya, konon ikan ini banyak ditangkap dan dikonsumsi di daerah Kalimantan dan Sumatra. Ukuran kedua ikan di piring saya ini seperti ikan asin; kecil, dengan bentuk badan pipih. Ketika menggigitnya, wuih, rasanya gurih saya hampir mengira ini daging asap, padahal sebenarnya ikan asap yang digoreng dengan minyak kelapa. Ada rasa yang seketika nyelekit di lidah, ya, bumbu andaliman (lada khas Sumatra) yang seakan terserap di seluruh badan ikan mengagetkan saya yang sempat terkantuk-kantuk karena udara dingin Bandung kala itu.

Taburan bumbu di atasnya adalah andaliman, potongan cabe merah, rawit merah dan bawang merah, rasa asin dari garamnya pas bahkan mendominasi dengan baik bersama rasa pedasnya. Disajikan dengan keripik kentang, cukup menetralkan hidangan appetizer ini dan saya siap mencoba hidangan kedua.

2. Mie Gomak


Seperti ramen. Menggunakan tipikal mie lidi, mie-nya seperti terlalu banyak tepung, I don't know maybe that's the real characteristic? Jadi agak lembek dan tidak kenyal (seperti makan parutan blewah? Atau mie yang direbus terlalu lama). Tapi bumbunya enak! Perpaduan rempah-rempah dengan santan kelapa; lagi-lagi gurih dan asin-manisnya menyatu dengan pas. Hanya saja, bumbunya kurang meresap pada suwiran ayam yang juga tercampur dalam mie ini. Honje/rias menjadi salah satu bahan andalan dalam mie ini.

3. Lawa Pakis Lindung


Akhirnya untuk pertama kalinya saya makan belut! OMG! Dan pengalaman pertama makan belut ini benar-benar berkesan, karena.. ENAK sekali! Saya jadi tau citarasa belut yang asli, tekstur dengan tingkat kematangan yang well done. Lawa pakis lindung ini adalah belut bakar yang dijadikan salad berisikan pakis, kelapa parut, dan kenari. Rasanya enak, mungkin sederhananya semacam urap-urap, but this one is just another level of that.

4. Udang Pammarasan


Nah, ini merupakan sajian yang cukup gila buat saya. Sebagai penikmat udang (dan aneka seafood lainnya), saya terbiasa dengan udang goreng ataupun bakar dengan bumbu yang umum; mayonnaise, barbeque, saus jamur, atau apapun. Tapi kali ini, bumbu udang gala yang disajikan adalah kluwek! Tau kluwek? Saya biasanya menggunakannya untuk memasak rawon, itupun dengan jumlah yang tidak terlalu banyak. Dan malam itu, saya merasakan bagaimana kluwek dosis tinggi bisa menyerupai alkohol! Memabukkan, bau menyengat dan rasanya begitu menusuk, seperti masakan Italia ataupun ketika memanggang Steak dengan wine. Jujur saya agak kesulitan menikmati makanan ini, karena begitu asing dan mungkin belum terbiasa, ya. Tapi rasanya begitu terngiang dan mungkin kalau ada kesempatan lain saya mau mencoba lagi,

5. Ayam Saksang


Ayam yang disuwir dibumbui dengan ombu-ombu kelapa gongseng (yang dibumbui dengan cabe hijau, rawit hijau, kemiri, bawang merah, jahe, lengkuas, sereh, garam, dan jeruk) menjadikan rasa manis pedas khas Indonesia yang kaya sarat bumbu.

Sebagai orang berdarah Batak, saksang ini bukan hal baru buat saya, makan berbagai macam saksang di Bandung bahkan memasaknya sudah jadi hal yang biasa. Sehingga ketika makanan ini ada di salah satu daftar sajian, saya jadi penasaran bagaimana citarasa aslinya. Saya juga pernah memasaknya lho disini. Hanya saja memang salah satu faktor kontroversial dalam masakan ini adalah bumbu aslinya yang mengandung darah, saya sendiri pernah makan yang pake darah, dan memang enak (waktu itu karena pertama kali makan, jadi ngga tau)!!! Sayang sekali, di agama saya itu haram, hahahaha... Dan malam itu, Rahung juga tidak menggunakan darah karena pertimbangan religi juga kali ya. Tapi tetap enak dan tidak mengurangi citarasa masakan itu sendiri (walaupun dalam hati saya tetap teringat betapa enaknya kalau menggunakan bumbu yang sebenarnya). Hehehe...

6. Ikan Tombur


Saya kira ikan tombur itu sejenis nama ikan, namun ternyata bahasa daerah yang berarti: ikan yang disiram dengan bumbu. Bahan dasar ikan ini sendiri merupakan gurame fillet (bisa juga ikan mas) yang dibumbui dengan bawang merah, kunyit, batang rias (batang kecombrang muda), dan kemiri. Enak banget! Bumbunya meresap dengan sempurna dan tekstur daging pada ikannya juga benar-benar tidak rusak. Sempurna banget perpaduan rasa gurih dan asinnya.

6. Ketan Hijau Saus Gula Merah


Makanan penutupnya tidak kalah Indonesia banget, ketan manis berwarna hijau sungguh lezat; empuk dan sedap di lidah dengan cocolan saus gula merah. What a wonderful Night kata Frank Sinatra.
 ---

Pengalaman malam itu benar-benar membuat saya makin mencintai masakan Indonesia, selama ini saya memang sudah mengagumi masakan Indonesia (yang begitu merepotkan karena bumbunya banyak) namun kadang suka lebih antusias dengan masakan luar negeri yang kadang bisa lebih menghipnotis dengan keeleganannya. Dan malam itu saya baru menyadari bagaimana Rahung Nasution membawa masakan Indonesia into another level. Saya harap di masa depan masakan Indonesia bisa lebih mendunia juga.


You May Also Like

7 comments

  1. Unik2 banget ya masakan nusantara.... Udah ngebayangin citarasanya yang kaya. Sepakat banget utk perlunya sekolah kuliner Indonesia :)

    ReplyDelete
  2. Wuih...saya belum pernah merasakan makanan khas dari Sumatra dan Kalimantan... Penasaran jadinya..

    Setujubang (setuju bangett!!) sama pemikiran Pak koki.. Sekolah kuliner sudah harus menjadi perhatian, jangankan orang luar, WNI aja akan banyak yang ikut belajar^^

    ReplyDelete
  3. menu makanannya khusus untuk event ini saja atau memang menu di restoran?? heheh

    ReplyDelete
  4. Widih jadi pengen nyobain ikan lais dengan bumbu salsa Andaliman - seperti apa bisa bikin Noniq takjadi mengantuk :D

    ReplyDelete
  5. namanamanya aneh yaa asing gitu :D mungkin memang karna khas batak jadi namanya juga gitu :D

    ReplyDelete
  6. hmmm pengen nyobak kuliner yang ada ayamnnya :D

    ReplyDelete
  7. wow enak banget kayaknya! Indonesia memang penuh dengan masakan lezat yang beraneka rasa. cek disini Beautiful Indonesia untuk lihat keanekaragaman Indonesia lainnya ya

    ReplyDelete