Review Aach... Aku Jatuh Cinta! (AAJC) - 2016

by - Sunday, February 07, 2016


Haloh teman-temin, masih dalam aura penyambutan datangnya Hari Valentine, hari penuh kasih sayang. Kali ini saya mau berbagi review tentang film karya Indonesia yang baru saja dirilis, Aach... Aku Jatuh Cinta! (AAJC) karya Garin Nugroho. Pemeran utamanya Pevita Pearce dan Chicco Jerico. Melihat kedua nama itu terpampang di poster bertema retro dengan dominasi warna pink ini, saya langsung keder, bukan hanya jaminan keduanya bakal memikat penonton lewat kecantikan dan ketampanannya, namun juga penasaran (dan takut kebablasan dalam ekspektasi) melihat performa akting mereka di film sekelas Garin Nugroho ini.

Yang pasti, jangan tertipu dengan poster komersial AAJC yang terkesan norak-cheesy, murahan bergaya roman picisan kolot. Dijamin penonton akan dibuat mengernyit, tertawa dalam kebingungan, kagum sekaligus sebal namun tetap dibuat penasaran bagaimana ending film ini.

Aach... Aku Jatuh Cinta!
Sutradara: Garin Nugroho
Pemeran: Pevita Pearce, Chico Jericho, Nova Eliza, Annisa Hertami
Distributor: MVP Pictures
Durasi: 85 menit
Bahasa: Indonesia.

KETIKA BERKATA CINTA TIDAK SEMUDAH RASA
"Bertemu kamu seperti ketegangan menunggu bom yang sumbunya menyala dan akan meledak, tetapi kuputuskan kusimpan bom itu sakuku biar berdegup dekat dengan jantungku. Maka jika bumi itu meledak, Bumi itu akan meledak bersama jantungku. Yang akan menghasilkan pejaran kembang api dan melahirkan cerita cinta."

Walaupun tema utama AAJC ini adalah drama percintaan, Garin sukses memberikan detail-detail unik seputar sejarah Indonesia sepanjang tahun 70 hingga 90an yang biasanya sering terlewatkan. Mulai dari profil Yulia yang dikisahkan sebagai perempuan berdarah campuran. Ayahnya yang keturunan Belanda awalnya merupakan ahli mekanik yang terkena PHK hingga akhirnya bekerja di sebuah pabrik reparasi radio milik orangtua Ibu Yulia. Pernikahan yang kemudian dilakukan ketika Ibu Yulia masih berusia 16 tahun tentu mengingatkan kita pada trend nikah muda yang sempat ngehits di era kolonial Belanda.

Yulia kecil hidup di tengah kondisi ekonomi yang terbilang mapan, bisa dilihat dari keluarganya yang memiliki televisi - barang mewah dimana tidak semua orang punya karena di awal kehadirannya sempat dianggap sebagai penghancur bisnis ekonomi kecil melalui iklan-iklan yang disiarkannya. Hingga akhirnya kemunculan bioskop yang ditandai dimana Yulia ingin menonton film Cinta Pertama (1973).

Alih-alih menjadi gadis cantik yang sombong, Yulia ditampilkan sebagai sosok melankolis namun bijaksana. Perpaduan antara rendah diri namun agresif. Tipikal gadis pedalaman yang tidak berani bercerita pada orangtua tentang masa pubernya; kebutuhannya akan bra baru atau rasa penasarannya mencoba berdandan dengan lipstik merah. Penyebab terbesarnya mungkin dari pengalaman ketika mendengar percakapan berujung perpisahan antara ayah dan ibunya. 

Namun seiring masa berlalu, gadis feminin itu menjadi pemberani, berkat nasihat sang ibu yang mencekoki pikirannya setiap hari untuk menjadi wanita kuat demi kelangsungan hidupnya di masa depan. 

"Perpisahan itu biasa, menjadi sendiri itu biasa, mati juga sendiri. Nanti kalau kamu dewasa kamu akan mengerti... Kamu akan jadi perempuan dewasa. Kamu cantik, nduk, kamu lembut. Tapi kelembutan kamu tidak boleh lemah. Kamu harus tegas. Ibu yang akan menghidupi kamu"

Bonusnya. kitapun akan disuguhi dengan trend mode flarepants (cutbray), pakaian ketat motif polkadot tabrak warna, gaya vintage hingga aksesoris gemerlap lewat setiap pakaian yang dikenakan para pemainnya.

Rumi (Chicco Jeriko), sebaliknya, kelahiran asli Indonesia, anak penjual minuman limun segar. Menaruh hati pada Yulia dari sejak kecil dan tidak segan-segan mengintimidasi laki-laki yang mencoba mendekati wanita pujaannya. Namun hanya itu. Dia tidak berani melangkah lebih jauh. Cintanya didekap erat jangan sampai ada yang tau, semacam secret admirer.

Karakter yang yang terinspirasi dari penyair Jalaludin Rumi itu diceritakan berusaha menutupi sisi gelapnya dengan menjadi pengacau yang nyentrik bahkan pemberontak berotak mesum. Masa lalu yang membuatnya seperti itu; perilaku kasar ayahnya dan tragedi ibu yang lari meninggalkan rumah. Semuanya terekam dan menjadikannya pagar pembatas baginya untuk tidak mendekati wanita karena tidak ingin membuat mereka terluka.

"Aku takut seperti ayah! Aku takut menggunakan tanganku untuk kekerasan!"

Namun keduanya sudah lama saling menyukai, saling jatuh cinta.

Tresna jalaran saka kulina. Cliche. Cinta masa kecil. Banyak kesempatan yang seakan kerap mempertemukan mereka; lingkungan rumah (tetangga), sekolah, ekskul (judo), kelas theater, namun gagal dalam mempersatukan mereka.

Di banyak kesempatan, Yulia kerap terlihat memancing agar Rumi menyatakan perasaannya. Tidak segan-segan mengejar mencari Rumi yang sering hilang dan kemudian muncul di hadapannya. Bagian yang seringkali membuat penonton gemas karena tidak banyak adegan romantis bertaburan karena Rumi begitu pengecut! 

Tapi, mana ada perempuan yang lebih dulu menyatakan perasaan pada zaman itu? Yuliapun hanya bisa menunggu sambil keduanya tetap setia untuk saling berkomunikasi via botol limun yang dikubur dalam liang di tengah puing-puing runtuhan rumah di atas bukit, sampai di satu titik Yulia ingin menyerah, memutuskan lebih baik menikah dengan orang lain.

Tidak salah jika sedari awal, film ini sudah menganalogikan kisahnya ibarat Romeo Juliet, Adam Hawa, bahkan Tom and Jerry. Kemelut cinta terlarang, saling kejar-kejaran tanpa ujung, dan romansa yang kacau. 

Semuanya hanya untuk mencari cara bagaimana menyatakan 'Aku Jatuh Cinta' kepada pujaan hati.

KISAH KLASIK DIBALUT MUSIK DAN POLITIK
Saya cukup terhibur dengan lagu pembuka Dari Mana Datangnya Asmara milik Ismail Marzuki yang dibawakan dengan jazzy di awal cerita. Bahkan bisa dibilang, keseluruhan musik latarnya diaransemen dengan apik dan rapi tanpa meninggalkan karakter musik zaman itu (contra bass dan tone piano honky tonk sangat sesuai dan melengkapi nuansa jadul). 

Lagu latar untuk setiap adegan serta pendukung emosi digarap dengan sangat baik dan total, dengan sound editing yang juga memperhatikan keseluruhan cerita; ada kalanya musik terdengar sayup-sayup, namun ada kalanya musik mendominasi (sembari menunjukkan kita akan selera musik zaman itu).

Ketertarikan Rumi pada musik sejak kecil; bagaimana dia ngeband dan menikmati musik rag hingga rock n roll (bahkan Ibu Rumi, diperankan Nova Eliza sempat memamerkan suara emasnya sebagai penyanyi klub) sempat membuat saya mengira film ini akan mengarah ke jalur musik, yang ternyata saya salah. Bagian ini hanyalah sampingan demi menunjukkan gaya anak band Rumi yang slengean dan eksentrik. Sayapun kecewa. Karena setelah itu Rumi pindah arus bergabung menjadi anggota teater, bisa jadi karena ada Yulia di sana atau karena dia ingin mewujudkan arti nama 'Rumi' bak penyair favorit ayahnya.

Begitu banyak detail yang rasanya ingin ditampilkan Garin Nugroho dalam film AAJC ini; setting keindahan produksi limun mula-mula, perkembangan industri tebu, keindahan Candi Prambanan, masa demonstrasi penolakan botol impor, hingga timeline waktu melalui perpindahan busana dan lagu membuat inti cerita film ini tidak mampu disampaikan dengan dramatis dan berkesan crowded.

Bahkan dialog berlogat Jawa membuat saya kesal karena sangat tidak alami dan tidak mencerminkan masyarakat Jawa Tengah pada umumnya, entah hal itu disengaja atau dijadikan parodi yang jelas saya cukup terganggu. Seharusnya para pemain inti lebih banyak berdialog dengan orang Jawa asli sehingga mengerti bahwa logat saja tidak cukup.

Satu demi satu tragedi pembentuk karakter masing-masing tokoh disampaikan begitu cepat tanpa memberikan jeda untuk bisa sejenak meresap di hati penonton. Bahkan ketika Yulia harus berjuang membantu ibunya berjualan demi membayar uang sekolah, rasanya, ya gitu aja deh. Nothing special. 

Banyak adegan Yulia dan Rumi seakan dihancurkan tanpa perasaan oleh sang sutradara yang membuat saya terbelalak dan mendesah, "Teganya...-" Bahkan dengan kejam saya harus menuduh Pevita yang tampil terlalu easy going, sorot mata yang kosong layaknya dipaksa untuk mencintai Chicco Jerico dalam waktu singkat. 

Ya, sungguh ironis. Keseluruhan adegan emosional dan lirik-lirik puitis yang disenandungkan di sepanjang film tidak tereksekusi dengan baik, saya malah lebih mengapresiasi adegan Rumi mengambil bra Yulia ataupun mengingat wajah Yulia yang coreng moreng karena ibunya menghapus lipstrik dengan seenaknya dari bibirnya. Lebih natural. Sisi nakal yang tidak dibuat-buat ataupun kondisi prihatin tanpa mengemis belas kasihan.

Unbelievable.

Namun di atas semuanya, saya cukup bangga dengan standar kualitas film yang ditetapkan Garin dan sungguh merekomendasikan teman-teman untuk nonton juga!! Dijamin bakal ketularan melankolis dan puitis. Pas banget dengan suasana hari kasih sayang, eciyee!

"Kita selalu bertemu dengan keadaan seperti ini, ini gerbong terakhir, 
kamu mau kita turun atau di sini? 
Aku milih..."

Bagaimana akhir kisah cinta Yulia dan Rumi? Apakah setimpal dengan perjuangan yang telah mereka lalui? Saksikan di bioskop kesayangan teman-temin!

Jangan lupa untuk menuliskan pendapat kamu kalau sudah nonton, ya! See you!


You May Also Like

5 comments

  1. Mantap reviewnya, menonton film Garin harus mikir, belum selesai scene itu dimengerti sudah lompat ke scene lain...

    ReplyDelete
  2. Chicco ini dicintai banyak sutradara yaa.....rasanya hampir tiap film yg muncul chicco lagi chicco lagi....hehehe

    ReplyDelete
  3. Duh penasaran dengan filmnya deh :D

    ReplyDelete
  4. Reviewnya bagus. Ah,...saya sudah mengira, seorang garin ngga akan membuat film percintaan yang menye menye yaaa...

    ReplyDelete