Mengenal Para Perintis Museum Geologi Bandung

by - Tuesday, October 18, 2016


Halo teman-temin, kali ini saya mau membahas tentang Museum Geologi Bandung. Dari namanya saja sudah bisa ditebak tentang apa gerangan museum ini. Ya, pasti Geologi, donk! Hahaha.

Buat saya, berkunjung ke Museum itu merupakan salah satu bentuk menghargai sejarah, seni, dan budaya negara kita. Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu saya mengikuti sebuah diskusi mengenai tambang yang bertempat di Museum Geologi dalam rangka memperingati 'Hari Jadi Pertambangan' dan berkesempatan menonton video dokumenter Museum Geologi sejak dari awal pendiriannya pada 16 Mei 1928, hingga sekarang.


Wah, saya takjub sekali menontonnya! Karena walaupun, bisa dibilang, saya sering mengunjungi Museum Geologi Bandung, tapi hingga saat itu saya belum pernah mengenal sejarah mengenai bangunan yang bertempat di Jalan Diponegoro ini.
SANG PERINTIS
Sejak dahulu, Indonesia bukan hanya terkenal akan rempah-rempahnya, namun juga bahan tambang. Terbukti, penelitian geologi untuk eksploitasi bahan tambang sudah dilakukan sejak abad 18, dan semakin giat dilakukan saat terjadinya revolusi industri di Eropa.

Dalam melakukan kegiatan geologi dan tambang di nusantara, hampir seluruhnya didominasi oleh bangsa eropa, sedangkan kaum pribumi hanya menjadi  kuli dan buruh yang tidak pernah menikmati kekayaan tanah airnya.

Menjelang Perang Dunia II, pemerintah kolonial Belanda merasa kekurangan tenaga menengah di bidang geologi dan pertambangan. Hal itu mendorong keputusan diadakannya kursus asisten geologi di Bandung.

Arie Frederick Lasut dan Soenoe Soemosoesastro terpilih sebagai wakil anak bangsa pertama untuk mendapat pelatihan mengenai geologi dan pertambangan yang nantinya, seiring waktu, keduanya menjadi tokoh penting bagaimana perkembangan tambang bisa menjadi hingga sekarang ini. Arie dan Soenoe menyelesaikan pendidikan 1941 dan langsung diangkat menjadi asisten ahli geologi lapangan di lingkungan Dienst van den Mijnbouw.

Belum lama Arie dan Soenoe bekerja, pada tahun  1942 Jepang menduduki nusantara dan mengakhiri Dienst van den Mijnbouw dengan mengubahnya menjadi Chishitsu Chosacho.

Ketika Indonesia merdeka, terjadi pengambilalihan kantor Chishitsu Chosacho oleh pemuda Indonesia yang kemudia berubah menjadi Pusat Djawatan Tambang dan Geologi 1950. Arie kemudia diangkat menjadi kepala dan Soenoe wakilnya.

Belanda kembali datang di awal kemerdekaan bersama sekutu untuk kembali mengambil doumen-dokumen penting terkait geologi dan tambang, namun mendapat perlawanan dari anak bangsa. Desakan tentara Belanda membuat kantor PDTG berpindah-pindah, dari Jalan Dipenogoro, Jalan Braga, Tasikmalaya, Magelang, Yogyakarta hingga kembali ke Bandung.

Semasa dalam pengungsian, Arie dan Soenoe mendirikan seekolah untuk mengajarkan geologi dan tambnag. Soenoe mempelopori pengalihan kosakata bahasa tambang dari bahasa asing menjadi bahasa Indonesia. Contohnya, 'Masa, Zaman, Kala, dan Waktu' dalam istilah geologi merupakan Soenoe.

Sementara sebagai KNIP, Arie banyak terlibat perundingan dengan Belanda terkait pengakuan kedaulatan Republik Indonesia. Entah hal apakah yang tersembunyi di tengah perjanjian Roem Royen yang akhirnya membuat Arie ditembak mati pada tanggal 7 Mei 1949.


Sepeninggal Arie Frederick Lasut, Sonoe diangkat menjadi ketua Djawatan Indonesia yang mana dipenuhi banyak benturan. Sampai pada titik beliau tidak ingin lagi menduduki jabatan tersebut dan berencana melanjutkan pendidikan, namun hal itu dihadang oleh penyakit ginjal yang kemudian menutup usianya.

Sekarang, kedua sosok ini sudah diangkat sebagai pahlawan nasional melalui perjuangannya di bidang geologi dan tambang.

Sepanjang pengelolaannya, PDTG kemudian berganti nama menjadi: Djawatan Pertambangan Republik Indonesia (1950-1952), Djawatan Geologi (1952-1956), Pusat Djawatan Geologi (1956-1957), Djawatan Geologi (1957-1963), Direktorat Geologi (1963-1978), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (1978 – 2005), Pusat Survei Geologi (sejak akhir tahun 2005 hingga sekarang).

YUK KENALI SENI BUDAYA KOTAMU!

Museum Geologi memiliki ratusan ribu koleksi batuan, mineral, dan fosil. Ruang peragaan Museum Geologi terdiri dari empat ruangan. Setiap ruangan menyajikan tema-tema yang berbeda. Ruang peragaan geologi Indonesia dan sejarah kehidupan berada di lantai dasar, sedangkan lantai satu menyajikan geologi dan kehidupan manusia dengan tema sumber daya geologi, manfaat dan bencana geologi.

Kalau ke Bandung, jangan lupa berkunjung ke Museum Geologi, ya!





You May Also Like

3 comments

  1. Wah, waktu ke Bandung tidak sempat mampir di museum .
    Rugi nih

    ReplyDelete
  2. Terakhir ke sini waktu Vito masih TK, waaaah pengen jelajah museum lagi. Seru yah wisata edukasinya. :)

    ReplyDelete
  3. Wah seru ya wisatanya.. udah lama juga belum ke bandung lagi nih..

    ReplyDelete