Sudah 2017 Kok Masih Baper Ditanya Kapan Nikah?

by - Tuesday, January 10, 2017


"Jadi Noniq kapan nih?"
"Niq, kamu kapan beranak?"
"Non, jadi kapan nih kepastiannya?"
"Niq, keburu kiamat tau!"

Dasar kamu jahat! #baper.

Seriusan deh sepanjang Desember 2016 hingga awal Januari 2017, pundi-pundi saya sudah penuh diisi kalimat itu. Teman-temin yang mau bertanya juga silakan dan semuanya akan saya jawab dengan:

Senyuman.

Hehehe.

Ngga, saya ngga baper kok malah udah biasa. Ngga tiba-tiba manyun, sensi, sedih, galau, resah, menyesali nasib sambil termenung di pojokan. No pressure at all. Saya sendiri juga ngga tau kenapa saya bisa se...ignorant ini.

Mungkin karena saya sudah berserah pada Yang Di Atas dan sejak lama berprinsip "There is time for everything," Semua ada waktunya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Dan saya selalu yakini itu.

Dan memang saya bukan Sim Chung, yang berapa kali reinkarnasi uda tau kalo jodohnya si Joon Jae, jadi mau berganti masa juga, jodoh ngga akan lari kemana. Tapi kalau nasib kita kayak Hae Soo, dikelilingin pangeran cakep, yakali bingung mau nikah sama yang mana? Sagala hayang, bisi nyesel mun salah pilih. Tapi saya juga ngga kayak Hae Soo jugakk...

Faktanya, hidup ngga seluruhnya realisasi drama Korea, ngapain maksain diri cari pacar, berusaha mencocokkan diri dengan pria yang sebenarnya tidak kita sukai - hanya demi status: married.

Janganlah. Saya bukan artis sih, ngga mau kehidupan rumah tangga jadi aset buat naikin rating blog (hihihi).

Dan, sayangnya ngga semua orang bisa secuek saya. 

Saya sendiri orangnya jahat jahil, suka ngurusin orang lain gitu, suka tiba-tiba sok perhatian tapi salah tempat:

"Wah, udah lama ngga ketemu," Sambil cipika-cipiki, "Kapan nih merit?" saya langsung bertanya tanpa sadar bahwa pertanyaan itu merupakan kategori question-you-must-not-ask. Dan bukannya sadar bahwa diri sendiri belum aja nikah, kadang saya malah nambahin dengan ngga tau malu pada pasangan yang baru nikah, "Kapan nih dapat momongan?"

Iya, saya memang ngga punya kaca dan ngga tau diri. Hahaha.

Tapi, that's not a problemkan? Kenapa semua orang selalu menutupi, seakan "Belum punya pacar," itu hal yang memalukan? Saya salut pada teman saya, dia salah satu wanita korban patah hati ditinggal pria setelah 7 tahun lama masa pacaran. Move on? Iya, hingga kini usia 40 tahun, dengan percaya diri dia bilang,

"Saya belum menemukan yang pas dan untuk saat ini hidup melajang juga bukan halangan untuk bahagia."

Buat sebagian orang proses hubungan asmara hingga menikah itu bak perjalanan dari Husein Sastranegara menuju Denpasar airport naik pesawat; lancar jaya ngga pake macet, belum lagi seluruh fasilitas serba ada - alias pernikahan ngga repot. Tapi kan ada juga yang harus menjalani kisah cintanya bak perjalanan road trip Bandung - Bali naik motor. Tanjakan turunan lebih terasa, apalagi di daerah perbatasan kota - nyari makan dan penginapan aja susye minta ampun, belum kalau kehujanan. Tapikan, mereka yang naik pesawat belum tentu bisa menikmati pemandangan menyusuri Pulau Jawa, ya ngga? 

Semua ada jalannya. 

Saya selalu percaya kalau Yang Di Atas punya rencana indah atas hidup kita masing-masing. Kalau belum apa-apa kita sudah malu dan minder, berarti kita ngga percaya donk bahwa Yang Di Atas mampu memberikan kita yang terbaik?

Sahabat saya merupakan salah satu korban pelecehan seksual and it's super real. Saya menangis tidak percaya ketika mengetahui kenyataan itu, terlebih bahwa anak yang dikandungnya tidak akan punya "ayah". Rasanya kasihan, marah bercampur kesal, tapi apa daya saya tidak ada kuasa untuk melakukan apapun. Tapi Tuhan Maha Pengasih, saya percaya rencanaNya selalu yang terbaik. Sahabat saya akhirnya dipinang oleh seorang pria yang menyayangi dia dan mau menerima keadaannya. That's a drama turn into a real story.

Jadi, kenapa sih harus baper, kalau ditanya kapan nikah? Melajang bukan aib kok - seperti yang dikhawatirkan para jomblo sejagat. Wong faktanya beberapa orang yang saya kenal sudah menikah aja ujungnya curhat:

"Seandainya aku bisa balik melajang lagi kayak kamu, Niq," 

Jadi, daripada baper, mending pergunakanlah waktu kita untuk hal-hal yang baik. Siapa tau kita duluan dipanggil ketimbang ketemu jodoh #tibatibahorror.

Mari jalani tahun 2017 dengan lebih optimis, menyerahkan semua rencana terbaik kita pada Yang Di Atas agar semuanya dilancarkan.



***Dan postingan ini sebenarnya dijadwalkan di awal Januari dan berhubung kemarin masih hura-hura liburan baru bisa selesai sekarang. Amin. 

Postingan berikutnya ngereview lagi, yah. Muach!


You May Also Like

6 comments

  1. Betuuul teh noniq. Setujuuuu :D Widya juga percaya kalo semua akan indah pada waktunya. Jadi ga perlu baper kalo ditanya kapan nikah :D

    ReplyDelete
  2. percaya kalau udah waktunya pasti ketemu jodohnya, mba Noniq. asal membuka diri aja dengan lelaki yang mendekati :D Semangat~

    ReplyDelete
  3. I have been in your shoes dear. Segala sesuatu itu indah pada waktunya :)
    Menikah juga bukan goal dari kehidupan. Kalau iya, kenapa ada perceraiann dan kenapa ada banyak org menjadi biarawati/wan dan monk.

    Enjoy your singleness :)

    ReplyDelete
  4. ntar kalo dah nikah ditanya kapan punya anak mbak.
    Jadi abaikan pertanyaan2 nggak penting ituh...
    Semangat :)

    ReplyDelete