Tips Penting Agar Sukses Berfoto Kece di UPSIDE DOWN WORLD YOGYAKARTA

by - Monday, January 09, 2017


Upside Down World Yogyakarta merupakan salah satu tempat wisata yang lagi ngehits rupanya. Ketika berkunjung ke sana saat liburan kemarin - waduh, padatnya pengunjung membuat saya harus rela bersabar demi bisa puas berfoto di bangunan yang mengambil tema "dunia terbalik" ini.

Jika teman-temin merupakan penggila foto, penggemar eksis di sosial media, rela berpose nyleneh demi keunikan dan citarasa foto yang berbeda dibandingkan masyarakat pada umumnya (hihihi) - berarti boleh coba kunjungi Upside Down World Yogyakarta (kalau lagi di Yogyakarta).

Saya sendiri awalnya tidak ada rencana mengunjungi tempat ini - malahan sebenarnya saya sedang dalam perjalanan menuju Pantai Parangtritis dari Candi Prambanan. Cuaca cerah dan terik matahari membuat saya percaya diri bahwa saya bakal bisa merekam sunset dengan apik di Parangtritis.

Apalagi, mencoba bertahan dari sengatan panas kota bakpia, saya sudah mempersiapkan tubuh agar bebas dari biang keringat. Deodoran dan bedak bayi sudah sah menjadi barang wajib yang harus saya gunakan setiap habis mandi (kebiasaan setiap kali melihat ibu saya memberikan obat biang keringat pada bayi kakak saya). Terbukti, saya bebas dari bau keringat walaupun momotoran dan panas-panasan sepanjang siang di area candi.


Namun, kenyataan berkata lain ketika cuaca Yogya mulai gelap, angin semriwing diikuti gerimis dan selanjutnya hujan deras!

Buru-buru saya browsing internet untuk melihat atraksi terdekat yang bisa saya kunjungi sekaligus jadi tempat berteduh. 

Muncullah kedip-kedip di GPS bahwa lokasi saya dekat dengan Upside Down World ini. Menyimak ulasan beberapa rekan blogger yang sempat berkunjung di acara pembukaannya, saya jadi tertarik juga untuk mengikuti keseruan mereka berfoto gila-gilaan.
Desain Spektakuler dibalik Bangunan Sederhana!

Tampak depan Upside Down World Yogyakarta (UDWY) menyerupai bangunan rumah pada umumnya. Area pintu masuk dan tiketnya malah terkesan sempit dan pas-pasan. Tiketnya yang seharga Rp. 90.000,- (dewasa) buat saya relatif mahal, tapi namanya penasaran ya gimana lagi (kesannya ngga rela banget, dah, hahaha).

Setelah membeli tiket, kita akan diajak memasuki area rumah bagian tengah sambil disarankan untuk melepas alas kaki dan disimpan di loker yang tersedia (kaos kaki masih boleh digunakan).

Selanjutnya kami menuju ruang utama, dimana dindingnya diatur seperti panel dan diberikan latar ruangan yang berbeda-beda; kamar tidur, kamar mandi, ruang duduk, dapur, ruang makan, garasi, juga ruang tamu. Satu ruangan menggunakan ukuran dinding sekitar 2-3 meter.

Nah, keunikannya terletak di pengaturan interior termasuk di dalamnya perabot. Yang mana, semuanya dibalik! Jadi meja, kursi, tempat tidur, dan hiasan dinding dipasang terbalik! Hal ini memang yang mau ditekankan; agar kita bisa menghasilkan foto cetar tanpa pusing mikirin pose.

Kuncinya memang dari perabotnya!
Mending Tripod atau Minta Difotoin?
Satu kekecewaan saya, berdasarkan beberapa tulisan di internet mengatakan bahwa staff UDWY siap membantu para pengunjungnya dalam mengarahkan gaya sesuai tema ruangannya juga siap memotretkan pengunjungnya.

Tapi, kalau dari pengalaman saya liburan kemarin (awal Januari 2017, lho, kemarin pisan!), para staff malah terlihat enggan membaur terlalu lama dengan pengunjung, malah hanya membantu sekedarnya saja. Entah karena sudah lelah karena kebanyakan tamu atau lagi mager (padahal saat itu masih jam 1 siang, lho).

Saya orangnya pemalu sih, jadi awalnya saya tidak meminta secara langsung kepada para staff untuk bantu motretin saya, melainkan saya kirim kode-sinyal gitu deh. Ya, kan namanya wanita selalu ingin dimengerti, gitu, uhuhu. Tapi kok ya mereka ngga paham...

Ditanya "Kalo di (dinding) sini, (posenya) mesti gimana, ya?"
Maka para staff hanya memberikan penjelasan "Kakinya ke sini, lagi begini, dan begini," Dan bayangkan, staff tersebut memberikan petunjuk pose tersebut ke seluruh pengunjung yang ada! Alias, kalau kita menanyakan "pose" ke staff, mereka hanya menunjukkan satu pose tersebut - kebayang donk, kalau kita para pengunjungnya ngga gila pose, pasti semua foto para pengunjung hasilnya sama semua.

Gemas karena para staff seakan tidak menyadari jeritan hati saya yang butuh pertolongan dipotretin, sayapun akhirnya meminta dengan sangat, "Mbak, bisa minta tolong fotoin?" Ke salah satu mbak yang lagi asyik mantau kegiatan para pengunjungnya. Actually it was obvious, she wasn't doing anything

Akhirnya dengan sedikit enggan, dia jawab "Boleh mbak," dan mulai mengatur pose saya, "Ok, lihat ke atas, lihat ke samping, lihat ke kamera," dan selesai tiga kali jepret, dengan cepat si mbak langsung mengembalikan kameranya ke saya, bukannya apa, tapi gelagatnya seakan memberikan pernyataan,
"Udah ah, lagi males motretin,"

Ih...

Kan kesel, ya.

Jadi, daripada kebawa baper kayak saya, mending kalau ke sana jangan berharap dulu bakal dipotretin sama staffnya (kecuali kalau memang lagi sepi, ya bisa jadi mereka bakal dengan senang hati motretin) tapi siapin aja fotografer pribadi atau lebih ekstrimnya: tripod!
Foto Kece Juga Perlu Makes Sense!
Jadi, hasil foto dari Upside Down World Yogyakarta ini diharapkan bakal menunjukkan seolah-olah kita bisa kayak cicak, bebas bergerak dan bisa nempel di sisi dinding manapun atau bahkan langit-langit tanpa takut jatuh.

Tapi, satu hal yang bikin fail adalah: fakta gravitasi.

Perhatikan foto saya yang gagal ini.
Inikan boong banget ya, karena rambut saya yang panjang tergerai itu tidak mengikuti gaya gravitasi. Jadi mau segila apapun pose saya, si rambut ini benar-benar ngerusakin foto. Hix.

#Tips 1: Perhatikan gravitasi!

Urusan gravitasi ini memang masalah kecil tapi kalau ingin hasilnya real, maka perlu dipertimbangkan lho. Misalnya disediakan kipas dari arah bawah untuk mengantisipasi urusan rambut dan arah pakaian. Sayang aja, pose udah maksimal tapi foto keliatan ngga masuk akal. Tapi kalau tidak, mau ngga mau kita harus bermain dengan pose.

Misalnya dalam foto saya, mau ngga mau, saya harus nempel terus ke dinding untuk menciptakan efek saya sedang menumpu/bersandar di langit-langit.

#Tips 2: Perhatikan sudut pandang dan maksud ruangan

Untuk urusan ini, kadang kita bisa bertanya dengan para staff. Namun, seperti yang saya katakan, para staff biasanya hanya menunjukkan pose yang itu-itu saja, sisanya kita kudu berkreasi sendiri. Kita perlu mengetahui maksud ruangan itu apa, dan bagaimana baiknya kita pose tapi tetap kelihatan beneran.

#Tips 3: Kreatif dan Responsif

Ada beberapa ruangan yang menurut saya agak ambigu. Bisa jadi karena saya kurang paham. 

Coba perhatikan ruangan ini. Perhatiin deh maksud tangga pada foto di bawah ini apa? Ngga jelaskan ya?

Tapi coba kalau kita crop sedikit. Hiiii... Saya jadi ngesot deh.

Jadi bukan hanya template blog yang perlu responsif, kita juga perlu sigap untuk menyesuaikan kondisi tersebut demi foto yang luar biasa... Lebay!

Saat berkunjung ke sana, Upside Down World Yogyakarta menyediakan sekitar 12 panel dinding yang siap dieksplorasi menjadi 200 buah foto, hahahaha....

Tertarik mencoba?

Upside Down World Yogyakarta
Jalan Ring Road Utara No.18, Maguwoharjo, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

You May Also Like

6 comments

  1. Hihihi bener jg ya Mba Noniq, rambutnya masa gak ikutin gravitasi yaa.. :D Duh aku klo ke tempat2 Upside Down gini kayaknya bakal mati gaya klo gak ada yg ngarahin fotonya.. :D

    ReplyDelete
  2. Seru tempatnya. :D Bisa foto2 kaya jumpalitan gitu. :D

    ReplyDelete
  3. Kok bisa bikin tempat kaya gitu, ya? Asli, penasaran. :o

    ReplyDelete
  4. Aku belum ke sini. Kalo ke Yk pasti mampir. Keren habis fotonya ya :) rambutna aja yg masih belum berkebyar2 hihihi

    ReplyDelete
  5. wih... keren... kebetulan nih, di daerahku juga sekarang sudah mulai ada yang kaya ginian...
    makasih mbak atas tipsnya...

    ReplyDelete