Terpukau 'Rumput', Band Keroncong Asal Amerika

by - Saturday, August 19, 2017

Buat saya memainkan musik keroncong itu susah! Bukan secara teknik ya, tapi secara feeling, bagaimana membawakan lagu yang syahdu, mendayu, kalem sambil mengesampingkan ego individual, menahan emosi yang meluap (bandingkan dengan musik pop dan rock).

Yah, kalau menurut saya sih definisi (ngga baku) keroncong itu ya gitu.

Secara umum, keroncong merupakan jenis musik yang ciri khasnya terletak dalam bunyi-bunyian krong-krong-krong yang dihasilkan dari perpaduan suling, biola, gitar, dan alat musik petik (pizicato style) maca cello dan kontra bas.

Membawakan lagu keroncong harus tenang dan benar-benar dari hati; bagaimana mengeluarkan melodi dan menyatukan harmoni sesama pemain musiknya dan antara penyanyinya. Pokoknya harus bisa membuat hati para pendengar merasa sejuk dan adem-ayem.

Makanya, ketika kemarin saya diajak menikmati pertunjukkan The Sound of Keroncong yang diadakan oleh Paris Van Java: Resort Lifestyle Place yang bertempat di Amphitheatre Sky Level Garden PVJ, saya antusias bingittts.

Saya kira, saya bakal menonton sekelompok band lokal yang bergenre Keroncong, taunya donk, saya nonton bule lagi memainkan musik keroncong!

Edan!

Di situ saya merasa malu banget. Saya aja ngga berani main keroncong, takut salah feeling. Lha ini bule Amerika fasih banget main lagu-lagu Keroncong. Lagu Indonesia pula!

Antara bangga sebagai warga Indonesia yang karya seninya diapresiasi, tapi malu juga. Karena saya malah sibuk belajar lagu luar negeri. Hahaha, memang kadang hidup itu ironis.

Band asal Amerika Utara ini menamai Rumput, karena sebelumnya mereka penggemar jenis musik bluegrass (semacam musik country) dan mencoba untuk mengkombinasikan musik keroncong dan musik country. Para personil Rumput ini sudah tertarik mempelajari alat musik Gamelan - baik Jawa dan Bali - selama dua tahun, sedangkan untuk vokalisnya sudah belajar vokal Keroncong selama 3 tahun.

Rumput band beberapa kali ikut serta dalam festival dan kompetisi musik, seperti tampil di acara Shadow Ballads pada April 2016, juga finalis dalam kompetisi The Neo-Traditional pada Agustus 2016 hingga sekarang aktif tergabung dalam komunitas orkestra di bawah naungan University of Richmond, Virginia yang bernama "Gamelan Raga Kusuma".


Ditemani kue putu dan es cendol, malam itu, band Rumput, yang terdiri dari alat musik gitar, biola, suling, ukulele dan (pizzicato) kontrabas, berkolaborasi dengan dalang lokal membawakan lagu Keroncong lokal seperti Es Lilin, Keroncong Kemayoran, dan Jali-Jali, hebat banget!

Kalau teman-temin penasaran, ini penampilan Rumput Band membawakan lagu Es Lilin.


Buat saya pribadi, penampilan mereka patut diacungkan jempol, lho. Pelafalan Sundanya bisa dibilang cukup menguasai (ya somehow, masih susah untuk menghilangkan dialek bulenya kan) dan intonasi pembawaan lagu keroncongnya juga pas.

Malam yang asyik banget! Saya jadi teringat kembali akan salah satu warisan budaya Indonesia yang wajib dilestarikan, ya lagu-lagu keroncong ini. Sayang penampilan mereka cukup singkat, semoga lain waktu bisa bertemu dan menikmati pertunjukkan mereka lagi - ya, karena katanya mereka akan vakum sejenak untuk lebih dalam lagi mempelajari keroncong, gamelan, dan wayang. Wow!

Teman-teman ada yang suka musik Keroncong?


Sampai bertemu di tulisan berikutnya.


You May Also Like

2 comments

  1. Keren banget bule keroncongan booo, merasa malu yaa pribumi malah ga bisa keroncongan yang ada mah keroncongan kelaparan huhuh

    ReplyDelete
  2. Saya suka dengerin musik keroncong. Kadang saking menghayatinya malah saya merinding sendiri karena ada beberapa musik keroncong yang nadanya begitu "melenakan" dan bikin merinding.
    Alhamdulillah ya, berarti budaya Indonesia diminati juga oleh orang luar Indonesia ^_^.

    ReplyDelete